Rabu, 08 Juni 2016
BELAJAR DARI TERAS MUSHOLA
10.30
No comments
BELAJAR DARI TERAS MUSHOLA
Episode : Inilah Cermin Ramadhan
Belum selesai Kyai Semar mengucapkan salam menutup Sholat
Maghrib terdegar hujan mengguyur deras hingga selesai wiridan belum juga hujan
reda, malah bertambah deras disertai angin. Para jama’ah tidak ada yang pulang.
Sebagian ada yang mengambil Al qur’an dan sebagian ada yang duduk-duduk di
teras yang cukup luas, termasuk Gus Jack yang memakai sarung dan peci baru.
“Sarung dan pecinya Keren Gus” kata Kang M’ian
“Sebentar lagi kan Ramadhan, untuk persiapan tarawih” jawab
Gus Jack
“Sampeyan semua juga sudah siap-siap kan?” kata Gus Jack
kemudian
“Kalau aku beli sembako yang cukup saja Gus, kuatir harganya
naik lagi” jawab kang Mi’an
“Saya juga,.. masak tiap Ramadhan harga sembako mahal,
padahal tentara kita katanya tambah kuat dan bisa mengantisipasi musuh,... kok
masih kalah ya dan bisa dijebol dengan harga sembako mahal...”
“Sik sik Kang Makbul, apa hubunganya tentara dan harga
sembako?” potong Gus Jack
“Lho harga sembako mahal kan musuh rakyat juga, hehehehe
...” Jawab Kang Makbul sambil tertawa.
“Benar Juga, lagi pula kita kan sekarang perangnya melawan
perut, bukan lawan musuh besenjata” kata kang Jarot menimpali sambil menyulut
dji sam soenya untuk mengusir dingin lalu meletakkan kretek itu di depan
teman-temanya duduk. Gus Jak mengambilnya sebatang lalu di lemparkan ke Kang
Mi’an.
“Lha tapi aneh juga ya,..” kata Gus jack sambil menyulut
kreteknya yang sudah bertengger di pojok bibirnya.
“Aneh apanya Gus,” tanya Kang Makbul
“Kita di Bulan puasa kan mengurangi makan, kalau sembako
tambah mahal itu tandanya permintaan di pasar tinggi. Jangan-jangan kita yang
salah, siang kita puasa malam kita makannya tidak wajar.. apakah puasa kita
seperti ini?”
Senin, 06 Juni 2016
RAHASIA KITAB PASHOLATAN 2
11.07
No comments
Udara terasa
dingin meski gerimis telah reda. Rembulan yang cuman separuh pun telah tampak .
Walaupun tidak terang, cahayanya cukup membantu penglihatan menembus gelap malam bagi orang desa. Sepi
senyap, hanya suara jangkrik yang
terdengar.
Ada tujuh orang yang jaga malam ini karena
cucu Mbah Padlan, Kuluk belum datang. Tiga orang di Pos ronda dan empat orang
melakukan Patroli sambil mengambil beras jimpitan dua tiga sendok yang di taruh
di depan pintu rumah dalam kaleng atau bumbung. Setelah banyak terkumpul
biasanya beras jimpitan itu di gunakan untuk kepentingan kampung atau kegiatan
sosial yang dikumpulkan di rumah kepala dusun.
Kang Birin dan
dan Kang Munir mengambil arah kanan dari Pos Ronda sedang Kang Warno dan Kang
Surip ke arah kiri. Setelah satu jam berkeliling mereka bertemu di depan
Mushola Kyai Semar karena rumah Kyai Semar terletak ditengah. Sepertinya
semuanya aman saja. Kemudian berempat menuju ke arah selatan , diujung sana ada
tiga rumah yang agak terpencil karena di batasi empat petak kebun yang cukup
luas milik Mbah Padlan yang saat ini di tanami singkong.
Dari arah
berlawanan tampak seorang pemuda berjalan dalam keremangan malam memakai celana
ikat yang panjangnya sampai di betis dan berkalung sarung. Mereka tahu itu
pasti Si Kuluk cucu Mbah Padlan yang akan ikut ronda. Tapi tak seoarng pun yang
melihat Kuluk keluar dari rumah kakeknya tapi tahu tahu sudah melenggamg di
jalan seolah memapak mereka.
“Assalamu’alaikum
bapak bapak, maaf kakek sedang tidak enak badan, sejak tadi bakda Isya sudah
istirahat dikamar, dan saya yang menggantikannya pun mohon maaf karena terlambat, tadi ketiduran di teras depan rumah” kata
Kuluk kemudian menjabat hormat ke empat orang yang seusia Ayahnya.
“Tidak mengapa
Mas Kuluk, kami juga baru mulai dan hendak menuju ke arah selatan, ke rumah
mbok Pinah yang paling ujung lalu mengitari batas dusun dari ujung selatan,
mari ikut bersama kami” Kata Kang Birin.
Berlima mereka
mereka melewati kebun jalan setapak menerobos sepinya kebun singkong. Bau harum
daun singkong muda yang basah membuat suana taMbah hening. Akhirnya merekapun
sampai di depan rumah mbok Pinah dan dua ruamah kerabat mbok pinah, Kang Idris
dan Kang Yahya.
Setelah
mengambil beras jimpitan di depan pintu rumah Mbok pinah Kang biein memberikan
kede agar teman-temanya disuruh mendekat.
“Di kebun
singkong tadi sepertinya ada rombongan lain selain kita di sebelah kebun yang
kanan” Kata Kang Birin. Tiga orang temanya tercekat antara percaya dan tidak.
Tapi mereka mengenal Kang Birin yang waktu mudanya pernah nyantri di Kediri
tidak berani membantah. Kuluk hanya menunduk menyembunyikan senyum kagumnya
lalu mengangguk-angguk.
“Jangan ada yang tolah toleh, Kalau mereka mengikuti kita berarti mereka
bukan pencuri dan pasti nanti mereka akan menampakkan diri di luar desa, tenang
tapi waspadalah, Kang Warno sampeyan jalan di depan bersama Kang Surip, mas Kuluk di tengah saya dan Kang
Munir di belakang, sekarang kita berjalan menuju keluar dusun melalui kebun
jagung belakang rumah Mbok Pinah, lalu
turun ke lapangan anak-anak biasa main bola kemudian menuju jalan desa”
Tidak ada yang membantah, mereka pun segera menerobos kebun jagung
menuju tanah lapang tempat anak anak main bola. Kuluk mengakui kecerdikan Kang
Birin sebab penguntit hanya punya dua pilihan, berhenti di balik rimbun pohon
jagung atau juga turun ke tanah lapang. Sebab kalau memutar jelas tidak mungkin
karena akan jauh tertinggal.
Benar, begitu mereka sampai di tanah
lapang empat orang muncul melompat keluar dengan golok terhunus dari depan dan samping
kanan ujung kebun jagung di susul dua orang dari dari belakang Kang Birin.
“Amankan Mas Kuluk !” Perintah Birin, karena
dia yakin mereka bukan pencuri tapi orang yang menginginkan Mas Kuluk. Mereka
pun segera membuat pagar mengelilingi Mas Kuluk. Empat orang gerombolan pun
maju
“ Sarungkan golok kalian ! jangan sampai
melukai peronda, cukup lumpuhkan dan bawa Kuluk ! “ Kata salah satu dari kedua
orang yang muncul dari belakang tadi. Ternyata mereka berdua adalah pimpinan
gerombolan itu.
Pertarungan satu lawan satu tak dapat di
hindarkan lagi, Kuluk yang ada ditengah mereka jongkok memeluk kaki seperti
orang ketakutan, tetapi kemudian tangannya tampak meraba-raba di tanah
mengambil dua kerikil yang cukup besar dan menggenggamnya erat di kedua
tangannya. Kini Kuluk telah duduk bersila sambil melihat empat kawannya yang bertarung.
Tampak Kang Birin dan Kang Warno dapat mengimbangi lawannya. Tetapi Kang Surip
sudah mulai terdesak.
“Bughh... “ Tendangan telak mengenai
perut Kang Surip hingga ia mundur sempoyongan. Untung saja punggungnya segera
di tahan oleh tangan Kuluk setelah dengan cepat menjentikkan kerikil tepat
mengenai kepala penyerangnya ketika maju hendak memukul Kang surip.
“Aaugh...” Hanya itulah yang keluar dari
mulut lawan Kang Surip lalu ambruk pingsan dengan kening berdarah. Semua
mengira Kang Surip berhasil merobohkan lawannya. Kang surip sadar apa yang
telah terjadi dan segera memandang Kuluk yang kembali duduk bersila sambil
meletakkan telunjuk kanannya di atas bibir. Kang Surip mengangguk, semangatnya
bangkit lagi. Tidak menghiraukan perutnya yang sakit, ia menerjang lawan Kang
Munir . Kini lawan Kang munir terpojok oleh serangan Kang Surip yang kini tambah
semangat hingga jurusnya dapat mengalir seperti air. Mungkin karena telah
hilang rasa takut dan keragua-raguannya.
Ketika lawanya berusaha mengelak tendangan
Kang Munir, dua pukulannya secara beruntun dan tenaga penuh dapat bersarang di
dada lawan membuat lawan terduduk kehabisan napas lalu pingsan. Berbarengan
dengan itu terdengar jeritan dan bunyi tulang patah. Nampak lawan Kang birin
Mundur Sempoyongan sambil tangan kirinya menopang tangannya kananya yang patah
di pangkal lengan. Ternyata Kang Birin pun mampu mendesak lawan.
“Kurang ajar,...!”salah seorang dari dua
orang yang dari tadi hanya melihat anak buahnya bertarung tiba- tiba telah
dihadapan Kang Birin dan menyerang dengan cepat. Tak menduga serangannya
secepat itu Kang Birin hanya bisa menjatuhkan dirinya dan berguling ke samping
hingga satu langkah di depan Kuluk. Kuluk yang spontan berdiri karena kaget
kemudin melolos kain sarung dari lehernya memapak kaki penyerang yang mengarah
kepala Kang Birin.
“Ctarr..! “ Ujung sarung telah mematah
kan serangan lawan sehingga kepala Kang birin selamat meski kupingnya
derdenging karena suara benturan kaki dan sarung tadi. Nampak Kuluk terdorong
mundur satu langkah karena benturan tadi begitu pula lawannya. Tanpa
menghiraukan kakinya yang seperti kesemutan begitu kedua kakinya menginjak tanah
segera melompat dengan pukulan beruntun yang cepat. Lagi-lagi Kang Birin hanya
bisa mundur menghidar tapi terlambat dan
“Desshh !” Dua tangan memapak tepat satu
jengkal di depan mukanya membuat ia
terdorong dan terjengKang. Tampak olehnya Kuluk sudah berdiri tegak tidak jauh
dari tempat dia tadi berdiri. Ternyata yamg memapak pukulan berbahaya tadi
adalah Kuluk. Sedang lawan yang menyeragnya terpental karena benturan pukulan
tadi dan terduduk dengan sorot mata tak percaya, segera ia berdiri lalu terbatuk
dan memegangi dadanya, agak limbung tapi dia paksa agar tegak berdiri karena
malu dapat dikalahkan oleh pemuda kemarin sore.
“Hentikan, Kuluk sebaiknya kau ikut kami
atau orang ini aku patah kan lehernya!” Tiba-tiba orang yang tadi tidak
bertarung dan hanya menonoton itu telah mengunci leher Kang Warno. Dan tampak pula
Kang Munir telah duduk lemas dengan leher ditempeli golok lawan.
Belum sempat Kuluk menjajawab tiba-tiba
melesat dua bayangan dari kebun jagung lalu berhenti agak jauh di tengah
lapang, itu berarti melewati mereka, tapi tadi tak seorangpun dapat melihat
degan jelas. Setelah dua bayangan itu membalikan badan barulah mereka tahu,
”Kakek, Kyai,...! “ Panggil Kuluk kepada
dua orang sosok yang baru datang itu. Rupanya mereka adalah Mbah Padlan dan Kyai
Semar.
“Semuanya diam dan jangan ada yang
berbuat bodoh,... Aku dan Mbah Padlan tidak tertarik untuk mengetahui dan
membuka kedok kalian, sebaiknya kalian lepaskan wargaku dan pergi dari sini.
Kalau masih ada yang bertindak bodoh dengan
melukai sedikit saja kedua wargaku itu, Aku dan Mbah Padlan tidak akan
membiarkan ada yang keluar dari lapangan ini kecuali di gotong besok setelah
sholat subuh ke rumah kalian masing-masing sebagai mayat!....Sekarang lepaskan
dan pergilah” Kyai Semar lalu melambaikan tangannya. Lima orang anggota
gerombolan itu memandang ke arah pimpinan mereka yang sedang menawan Kang
Warno. Dia melepaskan Kang Warno dan kang Surip dan segera kabur secepatnya meninggalkan
tempat itu tanpa satu patah katapun diikuti gerombolanya ke arah kebun jagung.
Kuluk dan teman-temannya segera berlari
menghampiri kedua kakek itu. Dan bersalaman mencium tangan mereka. Baru kali
ini mereka melihat kehebatan kedua kakek yang telah banyak diperbincangkan
orang. Kini mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua kakek
itu menaklukkan enam orang hanya dengan ucapanya yang wibawa dan menggetarkan
hati.
“Kakek, maafkan saya yang tidak
mendegarkan nasehat kakek, terima kasih Kyai, .. “ Kata kuluk di depan mereka
“ Sudahlah, teruskan kalian berkeliling
tapi jangan ada yang bercerita tentang peristiwa ini kepada siapapun, anggap
ini tidak pernah terjadi agar penduduk tetap merasa aman dan tidak resah, cukup
kalian saja yang tahu” Kata Mbah Padlan. Kyai Semar hanya mengangguk dan
tersenyum kemudian dengan isyarat tangannya menyuruh mereka pergi. Mereka pun
melangkah pergi di iringi pandangan kedua kakek itu sampai pinggir lapangan.
Ketika Kang Surip membalikkan badan
hendak keluar lapangan kedua kakek itu sudah tidak ada.
“Mereka hilang !” kata Kang Surip. Mereka
serempak membalikkan badan dan menggeleng-gelengkan kepala penuh kagum. Kuluk
tersenyum, siasatnya berhasil memaksa kedua kakek itu harus turun gunung. Dalam
hatinya tambah yakin rahasia kitab pasholatan akan segera terbuka.
****
Sabtu, 21 November 2015
AKU BUKAN KYAI -7 Episode: Kitab Walet Jat
11.20
No comments
AKU BUKAN KYAI -7
Episode: Kitab Walet Jati
Alhamdulillah sudah
dua hari ini tidak ada tamu yang datang mengeluhkan tentang penyakit atau masalah
keluarga. Aku dan istreiku jadi konsen mengerjakan baju penganten pelanggan.
Seperti jam 4 sore ini aku membantu mengawasi pegawai yang sedeng pasang
manik-manik agar sesuai dengan gambar desain rancangan isteriku. Hari ini aku
minta empat pegawai untuk lembur mengerjakan baju pengantin.
Aku lihat jam yang
menempel didinding tepat di atas mesin oberas menunjukkan pukul setengah lima ketika
terdengar ucapan salam dari ruang tamu. Isteriku segera bangkit dan menemuinya.
Tidak lama kemudian kembali menemuiku memberitahukan ada tamu yang mencariku. Begitu
sampai di ruang tamu alangkah kagetnya aku, Pak Tua tersenyum memandangku..
"Jangan
kaget Kyai, aku bukan hantu... Aku masih hidup, aku bukan hantu" Kata Mbah Sastro alias Pak Tua.
"Subhanallah,
benarkah panjenengan Mbah Sastro ?"
Tanyaku belum yakin sambil mengulurkan tangan dan dibalas dengan jabatan erat
olehnya.
"Benar Kyai"
"Kalau benar mengapa memanggilku Kyai"
" Maaf Kyai, eh maaf Mas Hanief " Katanya sambil melepaskan tanganku lalu duduk
"Lalu siapa yang tertabrak, semua orang melihat itu panjenengan Mbah "
"Itu orang gila yang tertabrak, aku hanya menggunakan raganya untuk menyerupaiku"
"Benar Kyai"
"Kalau benar mengapa memanggilku Kyai"
" Maaf Kyai, eh maaf Mas Hanief " Katanya sambil melepaskan tanganku lalu duduk
"Lalu siapa yang tertabrak, semua orang melihat itu panjenengan Mbah "
"Itu orang gila yang tertabrak, aku hanya menggunakan raganya untuk menyerupaiku"
"Apakah orang-orangnya
Mbah tahu kalau Mbah masih hidup"
"Tidak, dan
aku tidak ingin mereka tahu,... Aku juga tahu mereka dendam kepada Mas Hanief,
aku juga tahu apa yang terjadai di kedai es jus itu, aku bersyukur kedua murid
utamaku telah sadar dan sekarang menjadii murid Kyai Blekok " Katanya menjelaskan.
"Kanapa Mbah
? Maksudku kanapa Mbah melakukan semua
itu?" Tanyaku
"Aku
ingin, kembali ke jalan yang benar dan aku sekarang benar -benar telah siap"
Kata Mbah Sastro
"Mbah ,
mau minum apa?" Tanyaku menyadari tamuku belum disuguhi apapun.
"Apa saja,
terimakasih" Jawab Mbah .
"Sebentar
ya Mbah , " Kataku sambil bangkit untuk menemui isteriku. Aku minta isteriku
membuatkan kopi sekalian menyidiakan makan karena aku kuatir Mbah belum makan. Aku kembali ke ruang tamu.
"Kalau
boleh tahu, apa rencana Mbah selanjutnya?"
"Tolong bimbinglah
saya agar bisa kembali ke jalan yang benar"
"Baiklah Mbah
, tai bukan saya yang akan mengajari, Mbah akan saya antar ke Kyai Zuhdi di pesantren Sidoresmo
setelah maghrib ini kalau Mbah mau"
"Saya siap
Mas, terima kasih"
Isteriku mencul sambil membawa dua gelas kopi. Isteriku mempersilakan Mbah ke ruang makan karena makanan telah siap. Mbah menolak, tapi aku memaksa.
Isteriku mencul sambil membawa dua gelas kopi. Isteriku mempersilakan Mbah ke ruang makan karena makanan telah siap. Mbah menolak, tapi aku memaksa.
Ketika Maghrib
Mbah menolak ke masjid, takut membuat geger karena kemenculannya. Ia minta ijin
sholat di rumah. Akhirnya akupun tidak ke Masjid tapi sholat di rumh bersqma Mbah Sastro . Selsai sholat aku mengantar Mbah Sastro menemui Kyai Zuhdi. Mbah Sastro menutup wajanya dengan helm berkaca gelapa. Kyai
Zuhdi menerima dengan baik. Tentu aku tidak cerita siapa Mbah Sastro . Aku hanya menyampaikan Mbah ingin belajar.
Biarlah nanti Kyai
tahu siapa santri istimewanya yang sudah berumur lanjut itu dari Mbah Sastro sendiri. Aku di minta Kyai Bashori dtg menemuinya
dua hari yang lalu. Dlm hati aku menduga pasti tentang rencana menggelar wayang
di Masjid tahun depan. Ketika akan pulang, Mbah Sastro menghampiriku yang sudah duduk di atas sepeda
motor,
"Mas Hanief,
ajarilah cucuku yang masih ...Sangat muda itu supaya lebih dekat kepada Tuhan"
"Cucu Mbah
, bagaimena saya bisa menemuinya?"
"Mas Hanief
sudah pernah bertemu dengannya, Ratna Tunggadaewi, ia cucuku juga, kakekanya adalah
adik kandungku yang terakhir... Tolong berikan ini untuknya, Katakan jangan
smpai siapapan tahu tentang pemberianku. Kelak aku akan menemuinya sendiri.,"
Kata Mbah Sastro sambil meraih pinggang lalu mengluarkan dari balik
bajunya sesuatu yang dibungkus sapu tangan putih kecokalatan.
Dugaanku
sebuah buku, tapi aku tidak ingin menanyakan. Kuterima bungkusn itu dan aku
selipkan di balik bajuku di depan perutku. Lalu aku pamit. Sampai di rumah kebetulan
ada Cak Ali yang mencariku karena tadi maghrib dan isaya aku tidak sholat
jamaah di Masjid. Katanya Kyai Bashori menanyakan, makanya Cak Ali langsung ke
rmhku begitu selesai sholat isya.
"Darimana Kang "
" Pesantren, menemui Kyai Zuhdi"
"Lha Kata isterimu sama orang tua, siapa Kang"
"Darimana Kang "
" Pesantren, menemui Kyai Zuhdi"
"Lha Kata isterimu sama orang tua, siapa Kang"
"Ya
itu mengantar tamuku, oh ya punya nomor HP Ratna gak Cak"
"Punya,
ada apa Kang"
"Tolong
hubungi apa dia sekarang di Surabaya, aku ada perlu mendesak"
Cak Ali mengernyitkan Alis. Segera ia mengeluarkan HP dari kantong bajunya dan menghubungiya.
Cak Ali mengernyitkan Alis. Segera ia mengeluarkan HP dari kantong bajunya dan menghubungiya.
"Di
kemayoran" Katanya sambil menutup speaker hp-nya
"Suruh dia ke nasi bebek Bu Tumi, kita temui
dia sekarang" Kataku sambil berjalan ke luar menuju sepeda motor.
Dalam perjalan
Cak Ali menduga pencopet yang beberpa hari lalu dibuat babak belur akan balas
dendam. Aku hanya mengatakan nanti disana akan tahu jawabanya. Begitu aku
nyampe ternyata Ratna sudah duduk di warung dengan segelas teh hangat di depanya.
Rupanya dia telah pesan karena begitu kami duduk di samping kanan dan kirinya
tiga piring nasi bebek segera disediakan.
"Ada
perlu dengan saya pak?" Tanya Ratna sambil menggeser piring ke depannya
"Ya,
tapai kita makan dulu dengan tenang biar nikmat dan berkah" Jawabku.
Tampak Cak Ali tanganya sudah mssuk koboan lalu segera menyantapanya setelahi membaca
basmalah. Begitu pula Ratna makan dengan lahap. Kami makan tanpa berpakap-cakap.
Hah? Mereka sudah selesai. Padahal punyaku Masih seperempat piring. Mungkin mereka
sudah tidak sabar ingin tahu ada apa. Akupun segera menyelesaikan makanku.
Nikmat rasanya, terutama sambal koreknya. Begitu terasa.
Setelahi
cuci tangan aku segera mengeluarkan buku yang dibungkus sapu tangan putih
kecoklatn itu dr balik bajuku dan meletakkanya di depan Ratna.
"Titipan
dari seseorang untuk kamu" Kataku. Ratna menyentuhnya diikuti pandangn Cak
Ali kebenda trsebut.
"Apa
ini Pak, dari siapa"tanya Ratna.
"Aku
tidak tahu isinya, krn aku tidak punya hak membukanya, dan orang yang memberi
ini minta untuk dirahasiakan, kelak akan menemui Ratna sendiri" jawabku
"Baiklah
terima kasih, mari kita lihat apa isinya" Kata Ratna sambil membuka simpul
ujung sapau tangan yang membungkusnya. Benar dugaanku, buku. Sampulnya warna
biru pudar dimakan usia.
"Apa
ini artinya" Kata Ratna sambil menunjuk tulisn disampul buku itu. Tampak
deretan huruf tulisan tangan TELAW ITAJD. Aku mengernyitkan alis tak tahu maksudnya.
Kami hanya diam saling pandang.
"Walet
jati, bacanya di balik" Kata Cak Ali
"Benar"
Kata Ratna lalu dibukanya buku itu, tampak gambar orang sedang memperagakan
jurus.
"Apakah
pak Ali mengenal gerakan ini."Kata Ratna kepada Cak Ali. Cak Ali menggelengkan
kepala setelah mengamati beberapa halaman.
"Apakah
pak Hanief tahu artinya walet jati, apakah walet yang ada di pohon jati?"
Tanya Ratna
"Jati
yang dimaksud mungkin bukan pohon jati, tapi bahasa jawa jati yang artinya
sesungguhanya atau yang sebenarnya, kalau benar berarti artinya walet yang
sesungguhya"
Cak Ali
dan Ratna mengangguk-anggukan kepala.
"Saya rasa Ratna diminta untuk mempelajari ini, krna pesan pemberi buku ini jangan sampai orang lain tahu meskipun itu kakek Ratna sendiri"
"Baiklah pak Hanief, saya akan menjaga pesan itu, tapi saya akan minta bimbingan Pak Hanief dan pak Ali karena hanya bapak berdua yang tahu masalah ini" Kata Ratna sambil menutup dan membungkus kembali buku itu.
"Saya rasa Ratna diminta untuk mempelajari ini, krna pesan pemberi buku ini jangan sampai orang lain tahu meskipun itu kakek Ratna sendiri"
"Baiklah pak Hanief, saya akan menjaga pesan itu, tapi saya akan minta bimbingan Pak Hanief dan pak Ali karena hanya bapak berdua yang tahu masalah ini" Kata Ratna sambil menutup dan membungkus kembali buku itu.
*****
Hari ini, adalah tepat satu minggu Pak Tua berada di pesantren
Hari ini, adalah tepat satu minggu Pak Tua berada di pesantren
Aku baru
saja sampai di depan rumah setelah habis Isya tadi ke pesantren menemui Kyai Zuhdi
dan Pak Tua Alias Mbah Sastro . Tapi Kyai setelah maghrib tadi sudah berangkat ke Dander
Bojonegoro.
Ada Vario merah parkir di depan rumah, pasti ada tamu pikirku. Ternyata Cak Ali dan Ratna Tunggadaewi sudah duduk di ruang tamu
Ada Vario merah parkir di depan rumah, pasti ada tamu pikirku. Ternyata Cak Ali dan Ratna Tunggadaewi sudah duduk di ruang tamu
"Kemana
aja Kang, HP gak aktfi lagi " Tanya Cak Ali bgitu kpalaku nongol mlewati
pintu.
"Aku gak bawa HP Cak, dari pesantren... Tp Kyai lagi ada pngajian, Bagaimana dengan kitab pusaka itu, apa sdah dipelajari dengan baik" tanyaku kepada Ratna yang duduk di samping isteriku sambil memegang desain bajunya yang barusan digambar isteriku.
"Itulah keperluan saya kemari pak, saya gak paham, Pak Ali juga bingung dengan gerakan yang aku praktekkan dari kitab itu."
"Aku gak bawa HP Cak, dari pesantren... Tp Kyai lagi ada pngajian, Bagaimana dengan kitab pusaka itu, apa sdah dipelajari dengan baik" tanyaku kepada Ratna yang duduk di samping isteriku sambil memegang desain bajunya yang barusan digambar isteriku.
"Itulah keperluan saya kemari pak, saya gak paham, Pak Ali juga bingung dengan gerakan yang aku praktekkan dari kitab itu."
"Lha,..
kalau pendekarnya saja bingung, apa lagi saya yang bukan Pendekar, ....nggak
Pendek dan gak kekar" Kataku sambil melihat Cak Ali. Dia cuman tersenyum
manis. Itulah kehebaan Cak Ali, walau disinggung tetap tersenym manis. Tapi kalau
dia tersinggung, huhh jangan tanya, bisa-bisa ajur mumur kayak bubur sumsum
kesukaanya kalau pas giginya kumat!
(Tak udal udel sampean Cak, dari lontong balapa smpe nangis loro untu, ayo kapok tora?! )
(Tak udal udel sampean Cak, dari lontong balapa smpe nangis loro untu, ayo kapok tora?! )
"Menurut
analisa kalian, aneh dan gak bisa dipahaminya dalam hal apa? Apakah seperti terbalik?"
Tanyaku
"Terbalik?"
Kata Cak Ali dan Ratna berbarengan. Mereka saling pandang. Dan tiba-tiba Ratna berdiri lalu permisi mencari tempat yang
agk longgar. Dia segea kansentrasi lalu memainkan jurus silat yang indah lalu berhenti.
"Benar
pak Ali, terbalik, tapi kenapa tenagaku gak bisa keluar? Seprtinya ini gerakan
penutup?"
"Memang
di buku itu halaman berwpa" tanyaku
"Ya
halaman pertama lah, urut, Masak belajar gak urut... Apalagi ini jurus, gerakan
apa jadainya kalau gak urut" Jawabnya nyerocos. Untung kakeknya udah titip
untuk membimbing, kalau gak sudah tak bungkem
"Buktinya?... Gerakanmu salahkan? Makanya berapa?' Pertama?" Aku tatap wajahnya. Dia mengangguk.
"Cara membacanya adalah seperti Al Quran, halaman pertama adalah pada halaman yang terakhir !"
"Buktinya?... Gerakanmu salahkan? Makanya berapa?' Pertama?" Aku tatap wajahnya. Dia mengangguk.
"Cara membacanya adalah seperti Al Quran, halaman pertama adalah pada halaman yang terakhir !"
"Terma
kasih Pak Hanief, maaf, apakah bapak pewalet juga seperti Pak Ali? Apakah Bapak
juga telah mempelajari buku walet jati itu?" Tanya Ratna
"Bukan,
saya juga bukan orang yang suka mencuri ilmu, saya tahu karena yang memberikan
buku itu tadi memberitahuku untuk memberitahumu bagaimana mempelajarinya"
"Tadi
kang? Bukankah tadi dari Kyai Zuhdi, apakh beliau yang memberikanya?" Tanya
Cak Ali. Rupanya dia penasaran dari mana buku itu
"Bukan,
bukan beliau, itu saja jawabanku karna aku terikat janji" Jawabku kepada Cak
Ali. Cak Ali mengernyitkan Alis, aku tak tahu apa yang dipikirkan
"Baiklah
pak Hanief, saya permisi, saya pulang dulu untuk mempelajari buku itu dengan
baik, terima kasih, Assalaamialaikum" Kata Ratna lalu menemui isteriku untuk
bersalaman dan pulang untuk mempelajari buku walet jati itu.
Aku tidak
banyak belajar ilmu silat ketika muda. Meskipun Kyai shofi pernah mengajari beberapa
gerakan setelah aku menonton beberapa santri berlatih dibawah pengawasanya. Aku
memang kurang tertarik dengan ilmu silat. Aku lebih suka menghafal beberapa
ayat Al Qur'an, Hadits dan doa-doa. Menurut Kyai shofi aku berbakat tapi malas.
*****










