Sholat 5 Waktu

tambah sholat sunnah dan tahajud itu malah lebih baik

Guru Berpengalaman dan Sabar Dalam Pengajaran

Siswa - Siswi yang berdedikasi tinggi dan bermotivasi tinggi dalam pembelajaran

Kesabaran Yang Tiada Henti

Tak selamanya hidup ini abadi , hanyalah "perubahan" yang tidak akan berhenti karena sebuah perubahan itu kekal

Rumah kita sendiri

layaknya istana pribadi bila semua kita iklhasi

Pendidikan perlu keimanan

Hidup tanpa iman, sama halnya berjalan menyusuri kegelapan tana arti

Rabu, 08 Juni 2016

BELAJAR DARI TERAS MUSHOLA



BELAJAR DARI TERAS MUSHOLA
Episode : Inilah  Cermin Ramadhan

Belum selesai Kyai Semar mengucapkan salam menutup Sholat Maghrib terdegar hujan mengguyur deras hingga selesai wiridan belum juga hujan reda, malah bertambah deras disertai angin. Para jama’ah tidak ada yang pulang. Sebagian ada yang mengambil Al qur’an dan sebagian ada yang duduk-duduk di teras yang cukup luas, termasuk Gus Jack yang memakai sarung dan peci baru.
“Sarung dan pecinya Keren Gus” kata Kang M’ian
“Sebentar lagi kan Ramadhan, untuk persiapan tarawih” jawab Gus Jack
“Sampeyan semua juga sudah siap-siap kan?” kata Gus Jack kemudian
“Kalau aku beli sembako yang cukup saja Gus, kuatir harganya naik lagi” jawab kang Mi’an
“Saya juga,.. masak tiap Ramadhan harga sembako mahal, padahal tentara kita katanya tambah kuat dan bisa mengantisipasi musuh,... kok masih kalah ya dan bisa dijebol dengan harga sembako mahal...”
“Sik sik Kang Makbul, apa hubunganya tentara dan harga sembako?” potong Gus Jack
“Lho harga sembako mahal kan musuh rakyat juga, hehehehe ...” Jawab Kang Makbul sambil tertawa.
“Benar Juga, lagi pula kita kan sekarang perangnya melawan perut, bukan lawan musuh besenjata” kata kang Jarot menimpali sambil menyulut dji sam soenya untuk mengusir dingin lalu meletakkan kretek itu di depan teman-temanya duduk. Gus Jak mengambilnya sebatang lalu di lemparkan ke Kang Mi’an.
“Lha tapi aneh juga ya,..” kata Gus jack sambil menyulut kreteknya yang sudah bertengger di pojok bibirnya.
“Aneh apanya Gus,” tanya Kang Makbul
“Kita di Bulan puasa kan mengurangi makan, kalau sembako tambah mahal itu tandanya permintaan di pasar tinggi. Jangan-jangan kita yang salah, siang kita puasa malam kita makannya tidak wajar.. apakah puasa kita seperti ini?”

Senin, 06 Juni 2016

RAHASIA KITAB PASHOLATAN 2



RAHASIA KITAB PASHOLATAN 2


Udara terasa dingin meski gerimis telah reda. Rembulan yang cuman separuh pun telah tampak . Walaupun tidak terang, cahayanya cukup membantu penglihatan  menembus gelap malam bagi orang desa. Sepi senyap, hanya suara jangkrik  yang terdengar.
 Ada tujuh orang yang jaga malam ini karena cucu Mbah Padlan, Kuluk belum datang. Tiga orang di Pos ronda dan empat orang melakukan Patroli sambil mengambil beras jimpitan dua tiga sendok yang di taruh di depan pintu rumah dalam kaleng atau bumbung. Setelah banyak terkumpul biasanya beras jimpitan itu di gunakan untuk kepentingan kampung atau kegiatan sosial yang dikumpulkan di rumah kepala dusun.
Kang Birin dan dan Kang Munir mengambil arah kanan dari Pos Ronda sedang Kang Warno dan Kang Surip ke arah kiri. Setelah satu jam berkeliling mereka bertemu di depan Mushola Kyai Semar karena rumah Kyai Semar terletak ditengah. Sepertinya semuanya aman saja. Kemudian berempat menuju ke arah selatan , diujung sana ada tiga rumah yang agak terpencil karena di batasi empat petak kebun yang cukup luas milik Mbah Padlan yang saat ini di tanami singkong. 
Dari arah berlawanan tampak seorang pemuda berjalan dalam keremangan malam memakai celana ikat yang panjangnya sampai di betis dan berkalung sarung. Mereka tahu itu pasti Si Kuluk cucu Mbah Padlan yang akan ikut ronda. Tapi tak seoarng pun yang melihat Kuluk keluar dari rumah kakeknya tapi tahu tahu sudah melenggamg di jalan seolah memapak mereka.
“Assalamu’alaikum bapak bapak, maaf kakek sedang tidak enak badan, sejak tadi bakda Isya sudah istirahat dikamar, dan saya yang menggantikannya pun mohon maaf  karena terlambat,  tadi ketiduran di teras depan rumah” kata Kuluk kemudian menjabat hormat ke empat orang yang seusia Ayahnya.
“Tidak mengapa Mas Kuluk, kami juga baru mulai dan hendak menuju ke arah selatan, ke rumah mbok Pinah yang paling ujung lalu mengitari batas dusun dari ujung selatan, mari ikut bersama kami” Kata Kang Birin.
Berlima mereka mereka melewati kebun jalan setapak menerobos sepinya kebun singkong. Bau harum daun singkong muda yang basah membuat suana taMbah hening. Akhirnya merekapun sampai di depan rumah mbok Pinah dan dua ruamah kerabat mbok pinah, Kang Idris dan Kang Yahya.
Setelah mengambil beras jimpitan di depan pintu rumah Mbok pinah Kang biein memberikan kede agar teman-temanya disuruh mendekat.
“Di kebun singkong tadi sepertinya ada rombongan lain selain kita di sebelah kebun yang kanan” Kata Kang Birin. Tiga orang temanya tercekat antara percaya dan tidak. Tapi mereka mengenal Kang Birin yang waktu mudanya pernah nyantri di Kediri tidak berani membantah. Kuluk hanya menunduk menyembunyikan senyum kagumnya lalu mengangguk-angguk.
“Jangan ada yang tolah toleh,  Kalau mereka mengikuti kita berarti mereka bukan pencuri dan pasti nanti mereka akan menampakkan diri di luar desa, tenang tapi waspadalah, Kang Warno sampeyan jalan di depan bersama  Kang Surip, mas Kuluk di tengah saya dan Kang Munir di belakang, sekarang kita berjalan menuju keluar dusun melalui kebun jagung belakang rumah  Mbok Pinah, lalu turun ke lapangan anak-anak biasa main bola kemudian menuju jalan desa”
Tidak ada yang membantah,  mereka pun segera menerobos kebun jagung menuju tanah lapang tempat anak anak main bola. Kuluk mengakui kecerdikan Kang Birin sebab penguntit hanya punya dua pilihan, berhenti di balik rimbun pohon jagung atau juga turun ke tanah lapang. Sebab kalau memutar jelas tidak mungkin karena akan jauh tertinggal.
Benar, begitu mereka sampai di tanah lapang empat orang muncul melompat keluar dengan golok terhunus dari depan dan samping kanan ujung kebun jagung di susul dua orang dari dari belakang Kang Birin.
“Amankan Mas Kuluk !” Perintah Birin, karena dia yakin mereka bukan pencuri tapi orang yang menginginkan Mas Kuluk. Mereka pun segera membuat pagar mengelilingi Mas Kuluk. Empat orang gerombolan pun maju
“ Sarungkan golok kalian ! jangan sampai melukai peronda, cukup lumpuhkan dan bawa Kuluk ! “ Kata salah satu dari kedua orang yang muncul dari belakang tadi. Ternyata mereka berdua adalah pimpinan gerombolan itu.
Pertarungan satu lawan satu tak dapat di hindarkan lagi, Kuluk yang ada ditengah mereka jongkok memeluk kaki seperti orang ketakutan, tetapi kemudian tangannya tampak meraba-raba di tanah mengambil dua kerikil yang cukup besar dan menggenggamnya erat di kedua tangannya. Kini Kuluk telah duduk bersila sambil melihat empat kawannya yang bertarung. Tampak Kang Birin dan Kang Warno dapat mengimbangi lawannya. Tetapi Kang Surip sudah mulai terdesak.
“Bughh... “ Tendangan telak mengenai perut Kang Surip hingga ia mundur sempoyongan. Untung saja punggungnya segera di tahan oleh tangan Kuluk setelah dengan cepat menjentikkan kerikil tepat mengenai kepala penyerangnya ketika maju hendak memukul Kang surip.
“Aaugh...” Hanya itulah yang keluar dari mulut lawan Kang Surip lalu ambruk pingsan dengan kening berdarah. Semua mengira Kang Surip berhasil merobohkan lawannya. Kang surip sadar apa yang telah terjadi dan segera memandang Kuluk yang kembali duduk bersila sambil meletakkan telunjuk kanannya di atas bibir. Kang Surip mengangguk, semangatnya bangkit lagi. Tidak menghiraukan perutnya yang sakit, ia menerjang lawan Kang Munir . Kini lawan Kang munir terpojok oleh serangan Kang Surip yang kini tambah semangat hingga jurusnya dapat mengalir seperti air. Mungkin karena telah hilang rasa takut dan keragua-raguannya.
Ketika lawanya berusaha mengelak tendangan Kang Munir, dua pukulannya secara beruntun dan tenaga penuh dapat bersarang di dada lawan membuat lawan terduduk kehabisan napas lalu pingsan. Berbarengan dengan itu terdengar jeritan dan bunyi tulang patah. Nampak lawan Kang birin Mundur Sempoyongan sambil tangan kirinya menopang tangannya kananya yang patah di pangkal lengan. Ternyata Kang Birin pun mampu mendesak lawan.
“Kurang ajar,...!”salah seorang dari dua orang yang dari tadi hanya melihat anak buahnya bertarung tiba- tiba telah dihadapan Kang Birin dan menyerang dengan cepat. Tak menduga serangannya secepat itu Kang Birin hanya bisa menjatuhkan dirinya dan berguling ke samping hingga satu langkah di depan Kuluk. Kuluk yang spontan berdiri karena kaget kemudin melolos kain sarung dari lehernya memapak kaki penyerang yang mengarah kepala Kang Birin.
“Ctarr..! “ Ujung sarung telah mematah kan serangan lawan sehingga kepala Kang birin selamat meski kupingnya derdenging karena suara benturan kaki dan sarung tadi. Nampak Kuluk terdorong mundur satu langkah karena benturan tadi begitu pula lawannya. Tanpa menghiraukan kakinya yang seperti kesemutan begitu kedua kakinya menginjak tanah segera melompat dengan pukulan beruntun yang cepat. Lagi-lagi Kang Birin hanya bisa mundur menghidar  tapi terlambat dan
“Desshh !” Dua tangan memapak tepat satu jengkal di depan mukanya  membuat ia terdorong dan terjengKang. Tampak olehnya Kuluk sudah berdiri tegak tidak jauh dari tempat dia tadi berdiri. Ternyata yamg memapak pukulan berbahaya tadi adalah Kuluk. Sedang lawan yang menyeragnya terpental karena benturan pukulan tadi dan terduduk dengan sorot mata tak percaya, segera ia berdiri lalu terbatuk dan memegangi dadanya, agak limbung tapi dia paksa agar tegak berdiri karena malu dapat dikalahkan oleh pemuda kemarin sore.
“Hentikan, Kuluk sebaiknya kau ikut kami atau orang ini aku patah kan lehernya!” Tiba-tiba orang yang tadi tidak bertarung dan hanya menonoton itu telah mengunci leher Kang Warno. Dan tampak pula Kang Munir telah duduk lemas dengan leher ditempeli golok lawan.
Belum sempat Kuluk menjajawab tiba-tiba melesat dua bayangan dari kebun jagung lalu berhenti agak jauh di tengah lapang, itu berarti melewati mereka, tapi tadi tak seorangpun dapat melihat degan jelas. Setelah dua bayangan itu membalikan badan barulah mereka tahu,
”Kakek, Kyai,...! “ Panggil Kuluk kepada dua orang sosok yang baru datang itu. Rupanya mereka adalah Mbah Padlan dan Kyai Semar.
“Semuanya diam dan jangan ada yang berbuat bodoh,... Aku dan Mbah Padlan tidak tertarik untuk mengetahui dan membuka kedok kalian, sebaiknya kalian lepaskan wargaku dan pergi dari sini. Kalau masih ada yang bertindak bodoh dengan  melukai sedikit saja kedua wargaku itu, Aku dan Mbah Padlan tidak akan membiarkan ada yang keluar dari lapangan ini kecuali di gotong besok setelah sholat subuh ke rumah kalian masing-masing sebagai mayat!....Sekarang lepaskan dan pergilah” Kyai Semar lalu melambaikan tangannya. Lima orang anggota gerombolan itu memandang ke arah pimpinan mereka yang sedang menawan Kang Warno. Dia melepaskan Kang Warno dan kang Surip  dan segera kabur secepatnya meninggalkan tempat itu tanpa satu patah katapun diikuti gerombolanya ke arah kebun jagung.
Kuluk dan teman-temannya segera berlari menghampiri kedua kakek itu. Dan bersalaman mencium tangan mereka. Baru kali ini mereka melihat kehebatan kedua kakek yang telah banyak diperbincangkan orang. Kini mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua kakek itu menaklukkan enam orang hanya dengan ucapanya yang wibawa dan menggetarkan hati.
“Kakek, maafkan saya yang tidak mendegarkan nasehat kakek, terima kasih Kyai, .. “ Kata kuluk di depan mereka
“ Sudahlah, teruskan kalian berkeliling tapi jangan ada yang bercerita tentang peristiwa ini kepada siapapun, anggap ini tidak pernah terjadi agar penduduk tetap merasa aman dan tidak resah, cukup kalian saja yang tahu” Kata Mbah Padlan. Kyai Semar hanya mengangguk dan tersenyum kemudian dengan isyarat tangannya menyuruh mereka pergi. Mereka pun melangkah pergi di iringi pandangan kedua kakek itu sampai pinggir lapangan. Ketika Kang Surip membalikkan  badan hendak keluar lapangan kedua kakek itu sudah tidak ada.
“Mereka hilang !” kata Kang Surip. Mereka serempak membalikkan badan dan menggeleng-gelengkan kepala penuh kagum. Kuluk tersenyum, siasatnya berhasil memaksa kedua kakek itu harus turun gunung. Dalam hatinya tambah yakin rahasia kitab pasholatan akan segera terbuka.
****

Sabtu, 21 November 2015

AKU BUKAN KYAI – 6 Episode: Pukulan Syaithon, Luar Biasa

AKU BUKAN KYAI -7 Episode: Kitab Walet Jat


AKU BUKAN KYAI -7
Episode: Kitab Walet Jati


Alhamdulillah sudah dua hari ini tidak ada tamu yang datang mengeluhkan tentang penyakit atau masalah keluarga. Aku dan istreiku jadi konsen mengerjakan baju penganten pelanggan. Seperti jam 4 sore ini aku membantu mengawasi pegawai yang sedeng pasang manik-manik agar sesuai dengan gambar desain rancangan isteriku. Hari ini aku minta empat pegawai untuk lembur mengerjakan baju pengantin.
Aku lihat jam yang menempel didinding tepat di atas mesin oberas menunjukkan pukul setengah lima ketika terdengar ucapan salam dari ruang tamu. Isteriku segera bangkit dan menemuinya. Tidak lama kemudian kembali menemuiku memberitahukan ada tamu yang mencariku. Begitu sampai di ruang tamu alangkah kagetnya aku, Pak Tua tersenyum memandangku..
"Jangan kaget Kyai, aku bukan hantu... Aku masih hidup, aku bukan hantu" Kata Mbah  Sastro  alias Pak Tua.
"Subhanallah, benarkah panjenengan Mbah  Sastro ?" Tanyaku belum yakin sambil mengulurkan tangan dan dibalas dengan jabatan erat olehnya.
"Benar Kyai"
"Kalau benar mengapa memanggilku Kyai"
" Maaf Kyai, eh maaf Mas Hanief " Katanya sambil melepaskan tanganku lalu duduk
"Lalu siapa yang tertabrak, semua orang melihat itu panjenengan Mbah "
"Itu orang gila yang tertabrak, aku hanya menggunakan raganya untuk menyerupaiku"
"Apakah orang-orangnya Mbah  tahu kalau Mbah  masih hidup"
"Tidak, dan aku tidak ingin mereka tahu,... Aku juga tahu mereka dendam kepada Mas Hanief, aku juga tahu apa yang terjadai di kedai es jus itu, aku bersyukur kedua murid utamaku telah sadar dan sekarang menjadii murid Kyai Blekok " Katanya menjelaskan.
"Kanapa Mbah ? Maksudku kanapa Mbah  melakukan semua itu?" Tanyaku
"Aku ingin, kembali ke jalan yang benar dan aku sekarang benar -benar telah siap" Kata Mbah  Sastro
"Mbah , mau minum apa?" Tanyaku menyadari tamuku belum disuguhi apapun.
"Apa saja, terimakasih" Jawab Mbah .
"Sebentar ya Mbah , " Kataku sambil bangkit untuk menemui isteriku. Aku minta isteriku membuatkan kopi sekalian menyidiakan makan karena aku kuatir Mbah  belum makan. Aku kembali ke ruang tamu.
"Kalau boleh tahu, apa rencana Mbah  selanjutnya?"
"Tolong bimbinglah saya agar bisa kembali ke jalan yang benar"
"Baiklah Mbah , tai bukan saya yang akan mengajari, Mbah  akan saya antar ke Kyai Zuhdi di pesantren Sidoresmo setelah maghrib ini kalau Mbah  mau"
"Saya siap Mas, terima kasih"
Isteriku mencul sambil membawa dua gelas kopi. Isteriku mempersilakan Mbah  ke ruang makan karena makanan telah siap. Mbah  menolak, tapi  aku memaksa.
Ketika Maghrib Mbah menolak ke masjid, takut membuat geger karena kemenculannya. Ia minta ijin sholat di rumah. Akhirnya akupun tidak ke Masjid tapi sholat di rumh bersqma Mbah  Sastro . Selsai sholat aku mengantar Mbah  Sastro  menemui Kyai Zuhdi. Mbah  Sastro  menutup wajanya dengan helm berkaca gelapa. Kyai Zuhdi menerima dengan baik. Tentu aku tidak cerita siapa Mbah  Sastro . Aku hanya menyampaikan Mbah  ingin belajar.
Biarlah nanti Kyai tahu siapa santri istimewanya yang sudah berumur lanjut itu dari Mbah  Sastro  sendiri. Aku di minta Kyai Bashori dtg menemuinya dua hari yang lalu. Dlm hati aku menduga pasti tentang rencana menggelar wayang di Masjid tahun depan. Ketika akan pulang, Mbah  Sastro menghampiriku yang sudah duduk di atas sepeda motor,
"Mas Hanief, ajarilah cucuku yang masih ...Sangat muda itu supaya lebih dekat kepada Tuhan"
"Cucu Mbah , bagaimena saya bisa menemuinya?"
"Mas Hanief sudah pernah bertemu dengannya, Ratna Tunggadaewi, ia cucuku juga, kakekanya adalah adik kandungku yang terakhir... Tolong berikan ini untuknya, Katakan jangan smpai siapapan tahu tentang pemberianku. Kelak aku akan menemuinya sendiri.," Kata Mbah  Sastro  sambil meraih pinggang lalu mengluarkan dari balik bajunya sesuatu yang dibungkus sapu tangan putih kecokalatan.
Dugaanku sebuah buku, tapi aku tidak ingin menanyakan. Kuterima bungkusn itu dan aku selipkan di balik bajuku di depan perutku. Lalu aku pamit. Sampai di rumah kebetulan ada Cak Ali yang mencariku karena tadi maghrib dan isaya aku tidak sholat jamaah di Masjid. Katanya Kyai Bashori menanyakan, makanya Cak Ali langsung ke rmhku begitu selesai sholat isya.
"Darimana Kang "
" Pesantren, menemui Kyai Zuhdi"
"Lha Kata isterimu sama orang tua, siapa Kang"
"Ya itu mengantar tamuku, oh ya punya nomor HP Ratna gak Cak"
"Punya, ada apa Kang"
"Tolong hubungi apa dia sekarang di Surabaya, aku ada perlu mendesak"
Cak Ali mengernyitkan Alis. Segera ia mengeluarkan HP dari kantong bajunya dan menghubungiya.
"Di kemayoran" Katanya sambil menutup speaker hp-nya
"Suruh dia ke nasi bebek Bu Tumi, kita temui dia sekarang" Kataku sambil berjalan ke luar menuju sepeda motor.
Dalam perjalan Cak Ali menduga pencopet yang beberpa hari lalu dibuat babak belur akan balas dendam. Aku hanya mengatakan nanti disana akan tahu jawabanya. Begitu aku nyampe ternyata Ratna sudah duduk di warung dengan segelas teh hangat di depanya. Rupanya dia telah pesan karena begitu kami duduk di samping kanan dan kirinya tiga piring nasi bebek segera disediakan.
"Ada perlu dengan saya pak?" Tanya Ratna sambil menggeser piring ke depannya
"Ya, tapai kita makan dulu dengan tenang biar nikmat dan berkah" Jawabku. Tampak Cak Ali tanganya sudah mssuk koboan lalu segera menyantapanya setelahi membaca basmalah. Begitu pula Ratna makan dengan lahap. Kami makan tanpa berpakap-cakap. Hah? Mereka sudah selesai. Padahal punyaku Masih seperempat piring. Mungkin mereka sudah tidak sabar ingin tahu ada apa. Akupun segera menyelesaikan makanku. Nikmat rasanya, terutama sambal koreknya. Begitu terasa.
Setelahi cuci tangan aku segera mengeluarkan buku yang dibungkus sapu tangan putih kecoklatn itu dr balik bajuku dan meletakkanya di depan Ratna.
"Titipan dari seseorang untuk kamu" Kataku. Ratna menyentuhnya diikuti pandangn Cak Ali kebenda trsebut.
"Apa ini Pak, dari siapa"tanya Ratna.
"Aku tidak tahu isinya, krn aku tidak punya hak membukanya, dan orang yang memberi ini minta untuk dirahasiakan, kelak akan menemui Ratna sendiri" jawabku
"Baiklah terima kasih, mari kita lihat apa isinya" Kata Ratna sambil membuka simpul ujung sapau tangan yang membungkusnya. Benar dugaanku, buku. Sampulnya warna biru pudar dimakan usia.
"Apa ini artinya" Kata Ratna sambil menunjuk tulisn disampul buku itu. Tampak deretan huruf tulisan tangan TELAW ITAJD. Aku mengernyitkan alis tak tahu maksudnya. Kami hanya diam saling pandang.
"Walet jati, bacanya di balik" Kata Cak Ali
"Benar" Kata Ratna lalu dibukanya buku itu, tampak gambar orang sedang memperagakan jurus.
"Apakah pak Ali mengenal gerakan ini."Kata Ratna kepada Cak Ali. Cak Ali menggelengkan kepala setelah mengamati beberapa halaman.
"Apakah pak Hanief tahu artinya walet jati, apakah walet yang ada di pohon jati?" Tanya Ratna
"Jati yang dimaksud mungkin bukan pohon jati, tapi bahasa jawa jati yang artinya sesungguhanya atau yang sebenarnya, kalau benar berarti artinya walet yang sesungguhya"
Cak Ali dan Ratna mengangguk-anggukan kepala.
"Saya rasa Ratna diminta untuk mempelajari ini, krna pesan pemberi buku ini jangan sampai orang lain tahu meskipun itu kakek Ratna sendiri"
"Baiklah pak Hanief, saya akan menjaga pesan itu, tapi saya akan minta bimbingan Pak Hanief dan pak Ali karena hanya bapak berdua yang tahu masalah ini" Kata Ratna sambil menutup dan membungkus kembali buku itu.
*****
Hari ini, adalah tepat satu minggu Pak Tua berada di pesantren
Aku baru saja sampai di depan rumah setelah habis Isya tadi ke pesantren menemui Kyai Zuhdi dan Pak Tua Alias Mbah  Sastro . Tapi  Kyai setelah maghrib tadi sudah berangkat ke Dander Bojonegoro.
Ada Vario merah parkir di depan rumah, pasti ada tamu pikirku. Ternyata Cak Ali dan Ratna Tunggadaewi sudah duduk di ruang tamu
"Kemana aja Kang, HP gak aktfi lagi " Tanya Cak Ali bgitu kpalaku nongol mlewati pintu.
"Aku gak bawa HP Cak, dari pesantren... Tp Kyai lagi ada pngajian, Bagaimana dengan kitab pusaka itu, apa sdah dipelajari dengan baik" tanyaku kepada Ratna yang duduk di samping isteriku sambil memegang desain bajunya yang barusan digambar isteriku.
"Itulah keperluan saya kemari pak, saya gak paham, Pak Ali juga bingung dengan gerakan yang aku praktekkan dari kitab itu."
"Lha,.. kalau pendekarnya saja bingung, apa lagi saya yang bukan Pendekar, ....nggak Pendek dan gak kekar" Kataku sambil melihat Cak Ali. Dia cuman tersenyum manis. Itulah kehebaan Cak Ali, walau disinggung tetap tersenym manis. Tapi kalau dia tersinggung, huhh jangan tanya, bisa-bisa ajur mumur kayak bubur sumsum kesukaanya kalau pas giginya kumat!
(Tak udal udel sampean Cak, dari lontong balapa smpe nangis loro untu, ayo kapok tora?! )
"Menurut analisa kalian, aneh dan gak bisa dipahaminya dalam hal apa? Apakah seperti terbalik?" Tanyaku
"Terbalik?" Kata Cak Ali dan Ratna berbarengan. Mereka saling pandang. Dan tiba-tiba  Ratna berdiri lalu permisi mencari tempat yang agk longgar. Dia segea kansentrasi lalu memainkan jurus silat yang indah lalu berhenti.
"Benar pak Ali, terbalik, tapi kenapa tenagaku gak bisa keluar? Seprtinya ini gerakan penutup?"
"Memang di buku itu halaman berwpa" tanyaku
"Ya halaman pertama lah, urut, Masak belajar gak urut... Apalagi ini jurus, gerakan apa jadainya kalau gak urut" Jawabnya nyerocos. Untung kakeknya udah titip untuk membimbing, kalau gak sudah tak bungkem
"Buktinya?... Gerakanmu salahkan? Makanya berapa?' Pertama?" Aku tatap wajahnya. Dia mengangguk.
"Cara membacanya adalah seperti Al Quran, halaman pertama adalah pada halaman yang terakhir !"
"Terma kasih Pak Hanief, maaf, apakah bapak pewalet juga seperti Pak Ali? Apakah Bapak juga telah mempelajari buku walet jati itu?" Tanya Ratna
"Bukan, saya juga bukan orang yang suka mencuri ilmu, saya tahu karena yang memberikan buku itu tadi memberitahuku untuk memberitahumu bagaimana mempelajarinya"
"Tadi kang? Bukankah tadi dari Kyai Zuhdi, apakh beliau yang memberikanya?" Tanya Cak Ali. Rupanya dia penasaran dari mana buku itu
"Bukan, bukan beliau, itu saja jawabanku karna aku terikat janji" Jawabku kepada Cak Ali. Cak Ali mengernyitkan Alis, aku tak tahu apa yang dipikirkan
"Baiklah pak Hanief, saya permisi, saya pulang dulu untuk mempelajari buku itu dengan baik, terima kasih, Assalaamialaikum" Kata Ratna lalu menemui isteriku untuk bersalaman dan pulang untuk mempelajari buku walet jati itu.
Aku tidak banyak belajar ilmu silat ketika muda. Meskipun Kyai shofi pernah mengajari beberapa gerakan setelah aku menonton beberapa santri berlatih dibawah pengawasanya. Aku memang kurang tertarik dengan ilmu silat. Aku lebih suka menghafal beberapa ayat Al Qur'an, Hadits dan doa-doa. Menurut Kyai shofi aku berbakat tapi malas.
*****