Sholat 5 Waktu

tambah sholat sunnah dan tahajud itu malah lebih baik

Guru Berpengalaman dan Sabar Dalam Pengajaran

Siswa - Siswi yang berdedikasi tinggi dan bermotivasi tinggi dalam pembelajaran

Kesabaran Yang Tiada Henti

Tak selamanya hidup ini abadi , hanyalah "perubahan" yang tidak akan berhenti karena sebuah perubahan itu kekal

Rumah kita sendiri

layaknya istana pribadi bila semua kita iklhasi

Pendidikan perlu keimanan

Hidup tanpa iman, sama halnya berjalan menyusuri kegelapan tana arti

Senin, 14 Agustus 2017

BELAJAR DARI KARYA AGUNG





TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK
PROF.DR. HAMKA


Pulau Pandan jauh di tengah,
di balik pulau Angsa Dua.
Hancur adik dikandung tanah,
rupa adik terkenang jua.

Bang Muluk! ....... cinta saya kepada Hayati masih belum rusak, walau sebesar rambut
sekalipun!"
Muka Muluk merah mendengar perkataan Zainuddin itu. Dengan gugup dia berkata: "Saya tak
mengerti dengan perangai guru! Selama ini guru meratap, menangis, bersedih, bersedu
mengenang Hayati. Sekarang setelah diluangkan Tuhan kesempatan pertemuan yang sah
diantara guru dengan dia, guru hukum dia dengan satu hukuman, yang usahkan terbit dari
seorang laki-laki yang bercinta dan berbudi, dari hakim yang zalim sekalipun, tidak akan ada
hukuman sebagai demikian itu. Sekarang setelah dia pergi, baru guru mengatakan bahwa guru
tetap cinta akan dia! Guru jangan marah, jika saya katakan bahwa kadang-kadang perangai
guru masih serupa dengan perangai anak-anak".
"Ya bang Muluk! Saya sudah salah, hati dendam saya dahulukan dari ketenteraman cinta. Terus
terang saya katakan, kalau tidak ada Hayati lagi di sini, saya akan sengsara, terus!"
"Diapun demikian! Berat betul langkahnya hendak mening galkan rumah ini. Sampai ketika akan
berangkat pesannya masih disuruh sampaikannya kepada guru, bahwasanya nama gurulah
yang akan menjadi sebutannya di manapun dia. Inilah surat yang disuruhkannya berikan!"
Zainuddin membuka surat itu dengan penuh perhatian dan dibacanya:
Pergantungan jiwaku, Zainuddin !
Kemana lagi langit tempatku bernaung, setelah engkau hilang pula dari padaku, Zainuddin.
Apakah artinya hidup ini bagiku kalau engkau pun telah memupus namaku dari hatimu!
Sungguh besar sekali harapanku hendak hidup di dekatmu, akan berkhidmat kepadamu dengan
segenap daya dan upaya, supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa
makbul. Supaya dapat segala kesalahan yang besar-besar yang telah kuperbuat terhadap
kepada dirimu saya tebusi. Tetapi cita-citaku itu tinggal selamanya menjadi cita-cita, sebab
engkau sendiri yang menutupkan pintu di hadapanku: saya kau larang masuk sebab engkau
hendak mencurahkan segala dendam kesakitan yang telah sekim lama bersarang di dalam
hatimu, yang selalu menghambat-hambat perasaan cinta yang suci. Lantaran membalaskan
dendam itu, engkau ambil suatu keputusan yang maha kejam, engkau renggutkan tali
pengharapanku, pada hal pada tali itu pula pengharapanmu sendiri bergantung. Sebab itu
percayalah Zainuddin, bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang, bukan ia
menimpakan celaka kepadaku saja; tetapi kepada kita berdua. Karena saya percaya, bahwu
engkau masih tetap cinta kepadaku.
Zainuddin! Kalau saya tak ada, hidupmu tidak juga akan beruntung, percayalah !
Di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya, dan kekayaan
itu belum pernah kuberikan kepada orang lain, wulaupun kepada Aziz, ialah kekayaan cinta.
Saya tahu bahwa engkau keku nangan itu. Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu
bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup
menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu
digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan. Dan kalau
sedianya engkau kabulkan, kalau sedianya engkau terima kedatanganku, saya pun tidak
meminta upah dan balasan dari engkau. Upah yang saya harapkan hanyalah diri Dia, Allah Yang
Maha Esa, supaya engkau diberinya bahagia, dihentikannya aliran air matamu yang telah
mengalir sekian lama. Upahku yang kedua, yang saya harapkan dari pada-Nya hanyalah supaya
saya dapat hidup di dekatmu, laksana hidupnya sebatang rumput sarut di bawah lindungan
pohon beringin dengan aman dan sentosa, dipuput oleh angin pagi yang lemah gemulai
..............
Zainuddin! ....... Mengapa engkau tak suka memaafkan kesalahanku? Demi Allah! Sudah insaf
saya, bahwa tidak ada seorang pun yang pernah saya cintai di dalam alam ini, melainkan
engkau seorang. Tidak pernah beroleh tenteram diriku setelah aku coba hidup dengan orang
lain. Orang yang telah mengecewakan dirimu itu yang sekarang telah insaf dan telah
menghukum dirinya sendiri, meskipun dia sanggup memperoleh tubuhku, dia selamanya belum
sanggup memperoleh hatiku. Karena hatiku telah untukmu sejak saya kenal akan dikau.
Kalau sedianya engkau maafkan kesalahanku, engkau lupakan kebebalan dan kecongkakan
ninik mamakku, kalau....... kalau sekiranya maafmu memberi izin mimpimu sendiri terkabul;
kalau sedianya semuanya itu kejadian, engkau akan beroleh seorang perempuan yang masih
suci batinnya, suci jiwonya, belum penah disentuh orang lain, hatinya belum pernah dirampas
orang, yang tidak ada bedanya dengan 'Permatamu yang hilang', dan dengan gadis Batipuh
yang engkau cintai 2 dan 3 tahun yang lalu, yang gambarnya tergantung di kamar tulismu!
Piala kecintaan terletak di hadapan kita, penuh dengan madu hayat nikmat Ilahi: Air
madu itu telah tersedia di dalamnya untuk kita minum berdua biar isinya menjadi kering, dan
setelah keeing kita telah boleh pulang ke alam baqa dengan wajah yang penuh senyuman, kita
mati dengan bahagia sebagaimana hidup telah bahagia. Tiba-tiba dengan tak merasa kasihan,
engkau sepakkan piala itu dengan kakimu, sehingga terjatuh, isinya tertumpah habis, pialanya
pecah. Lantaran itu, baik saya atau engkau sendiri, meskipun akan masih tetap hidup, akan
hidup bagai bayang-bayang layaknya. Dan kalau kita mati, kita akan menutup mata dengan
penuh was-was dan penyesalan.
Apa sebab engkau begitu kejam, tak mau memberi maaf kesalahanku? Padahal telah lebih
dahulu bertimpa-timpa azab sengsara ke atas diriku lantaran mungkirku! Kelihatan oleh matamu
sendiri bagaimana saya dan suamiku menjadi pengemis di waktu kayamu, menumpang di
rumahmu untuk memperlihatkan bagaimana sengsaraku lantaran tak jadi bersuami engkau.
Hilang .... hilang semuanya. Hilang suami yang kusangka dapar memberiku bahagia. Hilang
kesenangan dan mimpi yang kuharap-harapkan. Setelah semuanya itu kuderita harus kudengar
pula dari mulutmu sendiri kata penyesalan, membongkar kesalahan yang lama, yang memang
sudah nyata kesalahan, yang oleh Tuhan sendiri pun kalau kita bertobat kepadaNya, walaupun
bagaimana besar dosa, akan diampuniNya.
Adakah engkau tahu hai Zainuddin, siapakah perempuan yang duduk di kamar tulismu kemaren
itu? Yang engkau beri kata pedih, kata penyesalan yang engkau bongkar kesalahannya dan
kedosaanrtya, yang engkau remukkan jiwanya dengan tiada peduli?
Perempuan itu tidak lain dari satu bayang-bayang yang telah hilang segenap semangatnya,
yang telah habis seluruh kekuatannya, tiada berdaya upaya lagi, habis kekuatan pancaindera
dan perasaannya; matanya melihat tetapi tak bercahaya, telinganya mendengar, tetapi tiada ia
mafhum lagi apa yang didengarnya
Yang tinggal hanya tubuhnya, batinnya sudah tak berkekuatan lagi. Itulah dia perempuan yang
engkau sakiti itu. Itulah perempuan yang tidak engkau timbang sengsaranya dan ratapnya.
Engkau ulurkan kepadanya tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris
pembalasan, mengenai sudut jantungnya, terpancur darah dan akan tetap mengalir sampai
sekering-keringnya, mengalir bersama dengan jiwanya.
Itulah perempuan yang engkau sakiti itu!
Tetapi sungguhpun demikian pembalasan yang engkau timpakan ke atas pundakku,
kesalahanmu itu telah kuampuni, telah kuhabisi, telah kumaafkan.
Sebabnya ialah lantaran saya cinta akan engkau. Dan karena saya tahu bahwasanya yang
demikian engkau lakukan adalah lantaran cinta jua. Cuma satu pengharapan yang penghabisan,
heningkan hatimu kembali, sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah, ampuni saya,
maafkan saya, letakkan saya kembali dalam hatimu menurut letak yang bermula, cintai saya
kembali sebagaimana cintaku kepadamu dan jangan saya dilupakan.
Engkau suruh saya pulang ke kampungku dan engkau berjanji akan membantuku sekuat
tenagamu sampai saya bersuami pula.
Zainuddin! Apakah artinya harta dan perbantuan itu bagiku, kalau bukan dirimu yang ada
dekatku?
Saya turutkan permintaan itu, saya akan pulang. Tetapi percayalah Zainuddin bahwa saya
pulang ke kampungku, hanya dua yang kunantikan, pertama kedatanganmu kembali, menurut
janjiku yang bermula, yaitu akan menunggumu, biar berbilang tahun, hari berganti musim. Dan
yang kedua ialah menunggu maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya
bergantung di awang-awang itu.
Selamat tinggal Zainuddin! Selamat tinggal, wahai orang yang kucintai di dunia ini! Seketika
saya meninggalkan rumahmu, hanya namamu yang tetap jadi sebutanku. Dan agaknya kelak,
engkaulah yang akan terpatri dalam doaku, bila saya menghadap Tuhan di akhirat ..........
Mana tahu, umur di dalam tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau
ziarah ke tanah pusaraku, bacakan doa di atasnya, tanamkan di sana daun puding panca warna
dari bekas tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa di sanalah terkuburnya seorang
perempuan muda, yang hidupnya penuh dengan penderitaan dan kedukaan, dan matinya
diremuk rindu dan dendam.
Mengapa suratku ini banyak membicarakan mati? Entahlah, Zainuddin, saya sendiri pun heran,
seakan-akan kematian itu telah dekat datangnya. Kalau kumati dahulu dari padamu, jangan kau
berduka hati, melainkan sempurnakanlah permohonan do'a kepada Tuhan, moga-moga jika
banyak benar halangan pertemuan kita di dunia, terlapanglah pertemuan kita di akhirat,
pertemuan yang tidak akan diakhiri lagi oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi
manusia ..........
Selamat tinggal Zainuddin, dan biarlah penutup surat ini kuambil perkataan yang paling enak
kuucapkan di mulutku dan agaknya entah dengan itu kututup hayatku di samping menyebut
kalimat syahadat, yaitu: Aku cinta akan engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di
dalam mengenangkanengkau"............
Sambutlah salam dari
Hayati.
Setelah selesai surat itu dibukanya, dilihatnya Muluk kembali, kiranya kelihatan oleh Muluk
pipinya telah penuh dengan airmata.
"Bang Muluk !" katanya beberapa saat kemudian, setelah menyapu air matanya. "Saya akan
berangkat ke Jakarta dengan kereta api malam nanti, pukul 9 besok pagi sampai di Tanjung
Periuk. Biasanya kapal dari Surabaya merapat di pelabuhan Tanjung Periuk pukul 7 pagi. Hayati
akan saya jemput kembali, akan saya bawa pulang ke mari.
"Inilah keputusan yang sebaik-baiknya guru," kata Muluk. Dia berdiri dari tempat duduknya, di
dekatinya Zainuddin dan dibarut-barutnya punggung anak muda itu. Lalu dia berkata pula,
"Mudah-mudahan berhentilah segala kesedihan tuan-tuan keduanya sehingga ini, dan biarlah
rahmat Allah meliputi tuan-tuan berdua .......

Sabtu, 12 Agustus 2017

TERAS MUSHOLA



TERAS MUSHOLA
Episisode: Mintalah, maka dia akan memberimu
                   Berilah, maka Dia akan mencukupkanmu

Sebagian para jama’ah sholat Shubuh sudah duduk melingkar di teras mushola mengelilingi kopi dan beberapa piring jagung juga ketela rebus yang sudah di tata rapi oleh kang Mi’an dan putranya. Memang Ahad Shubuh ini giliran Kang Mi’an yang menyediakan kopi.
Tampak Kyai Semar sudah menyelesaikan wiridnya dan berjalan menuju teras mushola.
“Wah, sudah pada ngumpul rupanya ini” kata Kyai Semar begitu sampai diteras mushola sambil mengambil tempat untuk duduk bersila di samping Kang Tarjo.
“Monggo Yai” kata Kang Tarjo sambil meletakkan secangkir kopi di depan Kyai semar dan mendekatkan dua piring ketela dan jangung rebus yang masih hangat.
“Terma kasih,... Bismillahirrohmanirrohiem” Kyai semar mengangkat cingkir kopinya dan menyeruput lalu meletakkan kembali di tempat semula.
“Kok Kang Dasran tidak kelihatan, apa dia baik-baik saja” Tanya Kyai
“Dia sedang repot Kyai, mengantarkan anak laki-lakinya ke kota cari kos-kosan, anaknya di terima di Politeknik” kata Kang Mi’an menjelaskan
“Bukankah istrinya juga sedang sakit?” tanya Kang Jarot
“Benarkah?” tanya Kyai
“Benar Kyai, tapi isterinya menolak di bawa ke rumah sakit” Kata Kang Makbul
Tampak Kyai semar diam mengangguk-anggukkan kepala. Dan tidak lama kemudian mengusapkan tangan kanannya ke wajahnya sambil menarik nafas. Kemudian berkata,
“Begini bapak-bapak sekalian..., itulah contoh perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu, dia tidak mau dibawa ke rumah sakit karena putranya butuh biaya yang tidak sedikit untuk belajar...., Saudara kita Pak Dasran sedang kesulitan, maka kita wajib membantunya. Apa kita tidak malu minta kepada Allah  agar kita diberi kebahagiaan dunia akhirat, padahal kita sendiri tdak mau membantu kesulitan saudara kita.
Rasulullah SAW bersabda: 
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR. Muslim)
Di teras ini minggu kemarin juga sudah kita pelajari bersama bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya. (Muttafaq 'alaih)

Nah, sekarang apa gunanya kalau kita “ngaji kalau tidak ngiji”, apa gunanya kita membaca Al Qur’an dan hadits kalau tidak kita amalkan, tidak kita praktekkan,... Pak Mi’an, tolong sampaikan kepada jama’ah, dari rumah ke rumah untuk membantu Pak Dasran dan keluarganya, dan sebelum pak Mi’an keliling, tolong ke rumahku terlebih dahulu” Kata Kyai sambil menatap Kang Mi’an.
“Maaf Kyai, sebelum di dahului panjenengan, ini kebetulan saya bawa uang. Tadi malam juragan Harto menebas seluruh kebun jagung saya” Kata Gus Jack sambil menyerahkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah. Kyai Semar  hanya mengangguk dan tersenyum.

RAHASIA KITAB PASHOLATAN 4



RAHASIA KITAB PASHOLATAN 4

Episode : Mushola Tanpa Sang Kyai 

Sejak kedatangan Sang Bupati dan ketua DPRD, kini setiap pengajian shubuh di Mushola Kyai semar selalu saja hadir tokoh-tokoh penting pejabat terutama dari kalangan parpol. Tetapi Kyai Semar tetap saja tidak pernah menyambutnya secara khusus. Dan pada jum’at ini, di akhir bulan April 1982, setelah pengajian Shubuh Kyai semar menyatakan bulan depan tidak ada pengajian dan baru akan dimulai lagi setelah PEMILU. Meski demikian para tokoh dan pejabat penting masih banyak yang datang di luar waktu pengajian agar bisa bertemu dengan Kyai, tetapi Kyai semar tidak pernah ada di rumahnya setelah pengajian terakhir itu. Bu Nyai mengatakan kepada para tamu dan jamaah di Musholanya bahwa Kang Jakfar, begitu itu ia memanggil suaminya, sedang silaturahmi ke Magelang ke pesantren Kyai Blekok.
Meski tidak ada Kyai Semar, Sholat Jama’ah tetap penuh. Kini yang menjadi Imam adalah Mbah Padlan sebagaimana biasanya kalau Kyai ada udzur. Begitu pula sholat isya’ malam ini.
“Maaf, Mbah Padlan,... kalau mbah tidak keburu pulang ada yang ingin kami tanyakan” Kata Kang Birin sambil bangkit berdiri dari duduknya seraya mendekat kepada Mbah Padlan sambil sedikit membungkuk mencegat Mbah Padlan yang baru saja menyelesaikan dzikir dan doanya.
Mbah Padlan menghentikan langkangnya memandang Kang birin sebentar lalu pandangannya dialihkan keseluruh orang-orang yang sedang duduk bersila bersandar dinding mushola. Mbah Padlan menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia telah memahami sesuatu.
“Baiklah, silahkan duduk kembali” Kata Mbah Padlan kepada Kang Birin sambil duduk bersila di depan imaman, Kang Birin pun kembali ketempat semula dan duduk. Melihat Kang Birin telah duduk kembali dan memandangnya, Mbah Padlan berkata,
“Apakah yang ingin kalian ketahui adalah tentang Kyai semar yang sudah tiga hari ini tidak menampakkan diri dan juga tentang pengajian shubuh yang terhenti?” Ucapan Mbah Padlan meski kelihatanya pelan tapi kedengaran sangat jelas dan menggetarkan hati. Tampak wibawanya tidak kalah dengan Kyai semar.
”Benar Mbah” Jawab Kang Birin mewakili teman-teman dan jamaah lainya.
“Jawabannya adalah, yang tahu secara pasti cuman Kyai, aku sendiri juga tidak tahu. Tetapi menurutku ini memang ada hubungannya dengan PEMILU dua minggu lagi, kalau tidak percaya cobalah nanti kita lihat apakah setelah PEMILU para pejabat dan para tokoh parpol itu masih mau melangkahkan kakinya kemari untuk  mengikuti pengajian Shubuh, hanya ini yang bisa saya katakan, saya yakin kalian semua mengerti tindakan Kyai,... dan saya minta tidak ada lagi yang menanyakan hal ini,... Birin dan Surip meski malam ini kalian tidak piket ronda, sebaiknya kalian nanti turun menjaga ujung selatan pintu masuk kampung dekat Hutan Cemoro, mohon maaf saya pulang dulu, Assalaamualikum” kata Mbah Padlan sambil berdiri bejalan menuju serambi mushola diikuti Kuluk. Semua jamaah menjawab salam Mbah Padlan tetapi tidak ada seorangpun yang turut keluar. Setelah mbah padalan dan Kuluk tidak tampak, Kang Warno merangkangkak dari tempat dududknya mendekati Kang Birin.
“Kang nanti saya ikut ronda ya?” kata Kang Warno begitu dia sudah duduk di samping Kang Birin.
“Aku juga’
“Aku juga”
“Aku Juga ikut”
Hampir semua orang yang ada di dalam mushola itu menyatakan ingin ikut.
“Baiklah, tapi tidak semuanya ikut, harus ada yang disini menemani Rojak menjaga Nyai Semar, lainnya bergabung di pos dan tempat lain” Jawab Kang Birin. Setelah mereka sepakat membagi tugas kemudian meninggalkan Mushola menuju rumah masing-masing kecuali Rojak dan Kang Munir. Mereka akan keluar ke pos masing-masing jam sembilan nanti.
****
Ketika Mbah Padlan telah sampai di halaman rumahnya tampak Kang Udin pembantunya yang juga pegawainya yang mengerjakan sawah ladangnya itu tampak sedang duduk di kursi panjang yang dibuat seperti amben dari bambu wulung. Kang Udin segera bangkit begitu melihat majikan dan cucunya itu datang dari mushola. Dengan lambaian tangannya Mbah Padlan mengajak Kang Udin masuk.
Kang Udin segera menutup pintu begitu Mbah Padlan dan Kuluk menuju kursi di ruang tamu. Ia segera menghampiri mereka dan duduk di samping Kuluk menghadap Mbah Padlan.
“Udin, apakah sejak tadi kau berada di luar?”
“Nggih Mbah”
“Apakah kamu tidak merasa ada sesuatu yang aneh?”
“Nggih Mbah, saya merasa sangat mengantuk, tidak seperti biasanya, makanya tadi saya membaca beberapa ayat yang saya hapal agar tidak mengantuk”
“Apa yang kamu baca?”
“Saya mebaca Al Mu’awidzat berulang-ulang”
Nampak Kuluk tersenyum mendengar jawaban Kang Udin. Dalam hati berkata, ternyata Kang Udin mempunyai ilmu pengetahuan agama yang baik pula. Pastilah Kakek yang mengajarinya. Pasti Kakek juga menurunkan ilmu lainnya kepada Kang Udin.
“Apakah kamu sudah makan?”
“Sudah Mbah”
“Baiklah sekarang kamu boleh pulang dan pastikan malam ini jagung muda itu jangan sampai terserang hama”
“Baiklah saya permisi, Mas Kuluk saya pulang dulu, Assalamu’alaikum” Kata Kang Udin kemudian berdiri menuju pintu diiringi salam dari Mbah Padlan dan Kuluk.
Setelah Kang Udin keluar dan menutup pintu itu kembali, Mbah Padlan berkata kepada Kuluk,
“Kuluk, sudah berapa lama kamu kenal dengan Widyawati?”
Kuluk tidak segera menjawab karena kaget dan kini hatinya berdebar-debar, bagaimana kakek bisa tahu?
“Kuluk”
“Ya kek, anu.... sebulan yang lalu Kek” Jawabnya masih tampak gugup.
“Kamu tahu bukan siapa orang tuanya?”
“Iya Kek, Ki Lurah”
“Dia memang cantik, berpendidikan, dan dari keluarga yang berderajat.... apakah kamu pernah ke rumahnya”
“Iya Kek, sekali, waktu bertemu di Toko Buku di kota kecamatan dan pulang bersama” Jawab Kuluk tanpa berani memandang Kakeknya.
“Apakah kamu bertemu dengan Ki Lurah?”
“Ya Kek, kami berkenalan”
“Jadi Ki Lurah tahu kamu cucuku”
“Benar Kek”
“Kuluk, sebaiknya engkau tidak mampir ke rumah Ki Lurah lagi agar tidak jadi perbincangan orang”
“Baik Kek”
“Baiklah sekarang Kakek akan istirahat”
“Kek, saya akan ke rumah Bu Nyai menemui Rojak, kunci pintu depan saya bawa”
“ Ya, tapi ingat nanti ikut Kang Birin Ronda” kata kakeknya sambil berjalan menuju kamar.
“Baik Kek “ Jawab Kuluk sambil berdiri dan menuju ke kamarnya pula untuk berganti baju. Tidak lama kemudian Kuluk telah keluar dari kamarnya memakai jaket dan dan celana longgar seperti yang di pakai pak tani juga sarung yang dililitkan di lehernya.
Kuluk keluar dan menguci pintu. Angin malam yang menyambutnya terasa dingin. Sebelum melangkangkan kakinya di depan pintu, Kuluk menoleh ke kanan memandang pagar halamannya yang rimbun di bawah pohon nangka yang cukup besar itu lalu tersenyum. Ia melangkan kakinya dengan ringan menuju mushola Kyai semar untukmenemui Rojak. Begitu Kuluk telah jauh meninggalkan halaman rumah nampak berkelebat seseorang dari balik pohon nangka mengikutinya.
Tiba-tiba Kuluk membalikkan badan berjalan menuju ke arah rumahmya kembali sambil merogoh-rogoh seluruh saku jaketnya seperti mencari sesuatu, seolah-olah ada yang tertinggal dan ingin kembali ke rumahnya. Tetapi setelah sampai di depan rumahnya Kuluk bukannya belok ke halaman rumahnya tapi berjalan terus kemudian masuk jalan setapak diantara kebun singkong kakeknya. Jalan setepak ini setelah melewati lima kebun akan tembus ke jalan Cemoro II tempat ke Pos Ronda.
Ketika  ditengah kebun persis di samping pohon yang rimbun dan banyak cabangnya Kuluk melompat dan ke salah satu cabang yang agak rendah lalu melopat lagi ke cabang yang lebih tinggi dan dia mengawasi sekelilingnya. Ia merasa sejak keluar dari rumah tadi ada yang menguntitnya. Kuluk ingin menjebak di tengah kebun ini.
Dan benar tidak lama kemudian seseorang keluar dari kebun singkong tidak jauh dari pohon tempat kuluk bersembunyi. Orang itu tidak dapat dikenali karena seluruh kepala dan mukanya tertutup dan hanya kedua matanya yang tampak sedang mencari-cari jejak buruanya. Orang itu berjalan mendekati pohon. Tiba-tiba ia melihat ke atas pohon tepat ketika Kuluk meluncur dengan cepat ke arah tubuhnya. Agaknya orang ini sangat waspada dan langsung melompat ke belakang menghindari terjangan Kuluk lalu sudah siap dengan Kuda-Kuda menanti serangan Kuluk.
“Apa maumu menguntit aku” tanya Kuluk. Tidak ada jawaban, orang itu malah bergeser ke tenpat yang agak luas. Kuluk maju sambil meraih kepalanya untuk menarik penutup kepalanya. Seperti dugannya orang itu akan melindungi kepalanya, dan ini memang diseangaja Kuluk untuk menyerang dengan tendanganya. Diluar dugaan Kuluk ternyata dengan gerakan yang cepat orang ini dapat mengelak tendangan Kuluk sekaligus menangkis serangan Kuluk dikepalanya.
“Plakk..!” terdengar benturan kedua lengan masing-masing. Kuluk merasa tanganya kesemutan dan orang itu terdorong satu langkah. Kuluk merasa orang ini lebih tangguh dari lawannya di lapangan sepak bola beberapa bulan lalu. Kuluk menyerang lagi langsung dengan jurus andalan, tetapi lawanya dapat menghindari dan sekali-kali menangkis serangan. Kuluk merasa heran setelah beberapa jurus berlalu lawannya tidak pernah satu kalipun menyerang.
Dalam hati Kuluk merasa kesal seperti dipermainkan, maka Kuluk menyerang dengan jurusnya yang lebih dahsyat sebagaimana yang di ajarkan Kyai Alas Roban. Kini dengan jurus barunya hanya dalam beberapa gebrakan saja lawan harus jungkir balik repot menghindar dan akhirnya pundak lawan terkena pukulan tangan terbuka sehingga ia mencelat kebelakang dan jatuh. Lalu dengan cepat lawanya bangkit dan melarikan diri ke tengah kebun singkong dengan cepat.
Meski masih penasaran Kuluk merasa percuma kalau mengejarnya karena larinya sangat cepat. Ia berjalan keluar dari kebun singkong menuju jalan desa dan kembali ke arah mushola Kyai Semar dengan pikiran masih penuh tanda tanya siapa penguntitnya tadi. Kalau dia bermaksud jahat kenapa ia tidak menyerang sedikitpun padahal jelas ilmu silatnya sangat tangguh. Bahkan dapat menahan pukulanya. Jika orang biasa setidaknya tulang di pundaknya akan patah atau setidaknya memar terkena pukulannya. Tidak terasa langkahnya sudah sampai di halaman mushola Kyai Semar.
Tampak Kang Munir dan dan Rojak sedang duduk bersila di atas tikar di teras Mushola ditemani dua cangkir kopi dan sepiring telo rebus  di samping teko dari keramik yang berisi kopi yang masih panas.
“Nah, itu dia si Kuluk datang” Kata Rojak sambil meletakkan cangkir kopinya.  Kang Munir yang sedang menikmati telo hangat menoleh ke arah Kuluk yang berjalan santai ke mereka.
“Kebetulan ini telonya masih hangat dan kopinya juga masih panas, sebentar ya saya ambilkan cangkir” kata  Rojak hendak berdiri begitu Kuluk sudah duduk di sampingnya.
“ Gak usah, kita joinan saja, satu cangkir berdua” kata Kuluk sambil menekan pundak Rojak yang akan berdiri. Rojakpun duduk kembali. Kuluk mengambil cangkir Rojak dan menyeruput kopinya kemudian meletakkan kembali di tempat semula.
“Jak, kamu ngomong apa sama kakek tentang Widya?”
“Hah, jangan sembarang nuduh Luk” Jawab Rojak. Rojak kini memanggil Kuluk tanpa sebutan mas lagi karena Kuluk tidak mau. Karena Kuluk ingin lebih akrab dan juga umur mereka sepantaran.
“Kan cuman kamu yang yang tahu ditambah Kang Munir sekarang” Kata Kuluk sambil meilhat Kang Munir yang hanya tersenyum sambil menghabiskan telonya. Kang Munir mengeluarkan rokok kreteknya dan korek api dari saku jaketnya dan mengambilnya sebatang lalu menawarkannya pada Kuluk. Kuluk menolak dengan mengangkat telapak tangan menghadapkan ke Kang Munir. Kuluk menolak karena tidak biasa merokok. Tetapi Rojak segera menyambar bungkis rokok itu dari tangan Kang Munir dan mengambilnya sebatang dan meletakkan bungkus rokok itu di samping cangkir kopi Kang Munir karena Kang Munir sedang menyulut rokok yang telah menempel di bibirnya. Sambil mengepulkan asap dari celah bibirnya Kang Munir melempar korek api  ke arah Rojak yang segera menangkapnya. Rojak menoleh ke arah Kuluk.
“Sungguh aku bukan tipe lambe bocor, aku teman yang bisa dipercaya” Kata Rojak lalu menyulut rokoknya dan meletakkan korek api itu di tas bungkus rokok.
“Lalu dari siapa Kakek tahu tentang Widya”
“Mas Kuluk, memangnya waktu Mas Kuluk sama Widya tidak ada orang yang lihat?” Tanya Kang Munir
“ Ya banyak Mas, wong dari kecamatan sampai rumah Ki Lurah” Rojak yang menjawab
“Kalau orang tua sudah tahu dan bertanya itu tandanya baik, siapa tahu Mas Kuluk segera dilamarkan” Kata Kang Munir sambil tersenyum.
“Baik apa, wong sepertinya Kakek melarang...”
“Melarang...?” Suaran Kang Munir dan Rojak serentak kaget. Keduanya memandang Kuluk.
“Assalamu’alaikum...” Suara salam mengagetkan mereka bertiga. Serentak mereka memandang ke arah datangnya suara di pintu masuk halaman mushola, mereka serempak menjawab salam. Tampak Kang Birin melenggang masuk sambil menenteng senter yang cukup panjang dari logam yang dilapisi nekel. Kuluk mengangkat jari telunjuknya di depan mulut. Dua temannya mengangguk.
“Mari silahkan Kang Birin, saya ambilkan cangkir” kata Rojak sambil berdiri begitu Kang Birin sudah duduk di samping Kang Munir.
“Terima kasih Jak, saya barusan minum kopi di Gardu Ronda, duduklah ada yang ingin saya sampaikan”
“Kabar apa Kang?” Tanya Rojak
“Dari Nasehat Mbah Padlan tadi, sepertinya kita harus lebih waspada. Apalagi mereka tentu tahu pula bahwa Kyai tidak ada sehingga mereka akan lebih berani”
“Benar Kang. Tadi saya juga memergoki orang yang menguntit saya tetapi ia melarikan diri setelah saya jebak di kebun singkong kakek”
“Barusan? ... sesore ini? Nekat dan berani benar mereka”
“Sik sik sik... maaf Kang Birin, maksudnya mereka itu siapa?... Pencuri?... Perampok? Terus apa hubungannya menguntit Kuluk?.. Jangan-jangan mereka itu ada hubungannya dengan Wid...”
“Hus...” potong Kuluk sambil membekap mulut Rojak
“Mereka itu orang yang akan mengacau desa kita, tapi kita belum tahu siapa mereka” kata Kang Birin. Rojak mengangguk-angguk.
“Pantas Kyai pesan kepada saya untuk selalu menjaga Mushola dan waspada, jadi segawat itu to keadaan desa kita” Kata Rojak
“Cukup kita saja yang tahu keadaan ini, jangan sampai masyarakat luas tahu” Kata Kang Birin sambil menatap Rojak. Rojak mengangguk-angguk sambil mengangkat tangan kanan di samping kepalanya dan menekuk semua jarinya kecuali tengah dan telunjuk.
“Begini rencananya, tadi juga sudah saya sampaikan di pos ronda, kalau mereka muncul lagi kita tangkap dan interogasi siapa yang menyuruh mereka dan apa maksudnya lalu lepaskan dan aku akan kuntit mereka sehingga kita tahu sarang dan induk semangnya, baiklah nanti jam sebelas Mas Kuluk kami tunggu di Pos Ronda kita akan menuju perbatasan di hutan cemara, Kang Munir dan Rojak tetap di sini nanti akan di temani sebagian dari pos Ronda, sekarang saya permisi mau kembali ke Pos Ronda” Kata Kang Birin. 
Malam itu semua rencana Kang Birin dilaksanakan dengan baik sampai menjelang subuh. Tetapi tidak ada satupun hal yang terjadi. Aman.
*****