Senin, 14 Agustus 2017
BELAJAR DARI KARYA AGUNG
00.15
No comments
TENGGELAMNYA
KAPAL VAN DER WIJCK
PROF.DR.
HAMKA
Pulau
Pandan jauh di tengah,
di
balik pulau Angsa Dua.
Hancur
adik dikandung tanah,
rupa adik terkenang
jua.
Bang Muluk! ....... cinta
saya kepada Hayati masih belum rusak, walau sebesar rambut
sekalipun!"
Muka Muluk merah
mendengar perkataan Zainuddin itu. Dengan gugup dia berkata: "Saya tak
mengerti dengan perangai
guru! Selama ini guru meratap, menangis, bersedih, bersedu
mengenang Hayati.
Sekarang setelah diluangkan Tuhan kesempatan pertemuan yang sah
seorang laki-laki yang
bercinta dan berbudi, dari hakim yang zalim sekalipun, tidak akan ada
hukuman sebagai demikian
itu. Sekarang setelah dia pergi, baru guru mengatakan bahwa guru
tetap cinta akan dia!
Guru jangan marah, jika saya katakan bahwa kadang-kadang perangai
guru masih serupa dengan
perangai anak-anak".
"Ya bang Muluk! Saya
sudah salah, hati dendam saya dahulukan dari ketenteraman cinta. Terus
terang saya katakan,
kalau tidak ada Hayati lagi di sini, saya akan sengsara, terus!"
"Diapun demikian!
Berat betul langkahnya hendak mening galkan rumah ini. Sampai ketika akan
berangkat pesannya masih
disuruh sampaikannya kepada guru, bahwasanya nama gurulah
yang akan menjadi
sebutannya di manapun dia. Inilah surat yang disuruhkannya berikan!"
Zainuddin membuka surat
itu dengan penuh perhatian dan dibacanya:
Pergantungan jiwaku,
Zainuddin !
Kemana lagi langit
tempatku bernaung, setelah engkau hilang pula dari padaku, Zainuddin.
Apakah artinya hidup ini
bagiku kalau engkau pun telah memupus namaku dari hatimu!
Sungguh besar sekali
harapanku hendak hidup di dekatmu, akan berkhidmat kepadamu dengan
segenap daya dan upaya,
supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa
makbul. Supaya dapat
segala kesalahan yang besar-besar yang telah kuperbuat terhadap
kepada dirimu saya
tebusi. Tetapi cita-citaku itu tinggal selamanya menjadi cita-cita, sebab
engkau sendiri yang
menutupkan pintu di hadapanku: saya kau larang masuk sebab engkau
hendak mencurahkan segala
dendam kesakitan yang telah sekim lama bersarang di dalam
hatimu, yang selalu
menghambat-hambat perasaan cinta yang suci. Lantaran membalaskan
dendam itu, engkau ambil
suatu keputusan yang maha kejam, engkau renggutkan tali
pengharapanku, pada hal
pada tali itu pula pengharapanmu sendiri bergantung. Sebab itu
percayalah Zainuddin,
bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang, bukan ia
menimpakan celaka
kepadaku saja; tetapi kepada kita berdua. Karena saya percaya, bahwu
engkau masih tetap cinta
kepadaku.
Zainuddin! Kalau saya tak
ada, hidupmu tidak juga akan beruntung, percayalah !
Di dalam jiwaku ada suatu
kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya, dan kekayaan
itu belum pernah
kuberikan kepada orang lain, wulaupun kepada Aziz, ialah kekayaan cinta.
Saya tahu bahwa engkau
keku nangan itu. Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu
bahagia pada tiap-tiap
saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup
menandingi saya di dalam
alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu
digiling oleh sengsara
dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan. Dan kalau
sedianya engkau kabulkan,
kalau sedianya engkau terima kedatanganku, saya pun tidak
meminta upah dan balasan
dari engkau. Upah yang saya harapkan hanyalah diri Dia, Allah Yang
Maha Esa, supaya engkau
diberinya bahagia, dihentikannya aliran air matamu yang telah
mengalir sekian lama.
Upahku yang kedua, yang saya harapkan dari pada-Nya hanyalah supaya
saya dapat hidup di
dekatmu, laksana hidupnya sebatang rumput sarut di bawah lindungan
pohon beringin dengan
aman dan sentosa, dipuput oleh angin pagi yang lemah gemulai
..............
Zainuddin! .......
Mengapa engkau tak suka memaafkan kesalahanku? Demi Allah! Sudah insaf
saya, bahwa tidak ada
seorang pun yang pernah saya cintai di dalam alam ini, melainkan
engkau seorang. Tidak
pernah beroleh tenteram diriku setelah aku coba hidup dengan orang
lain. Orang yang telah
mengecewakan dirimu itu yang sekarang telah insaf dan telah
menghukum dirinya
sendiri, meskipun dia sanggup memperoleh tubuhku, dia selamanya belum
sanggup memperoleh
hatiku. Karena hatiku telah untukmu sejak saya kenal akan dikau.
Kalau sedianya engkau
maafkan kesalahanku, engkau lupakan kebebalan dan kecongkakan
ninik mamakku,
kalau....... kalau sekiranya maafmu memberi izin mimpimu sendiri terkabul;
kalau sedianya semuanya
itu kejadian, engkau akan beroleh seorang perempuan yang masih
suci batinnya, suci
jiwonya, belum penah disentuh orang lain, hatinya belum pernah dirampas
orang, yang tidak ada
bedanya dengan 'Permatamu yang hilang', dan dengan gadis Batipuh
yang engkau cintai 2 dan
3 tahun yang lalu, yang gambarnya tergantung di kamar tulismu!
Piala kecintaan terletak
di hadapan kita, penuh dengan madu hayat nikmat Ilahi: Air
madu itu telah tersedia
di dalamnya untuk kita minum berdua biar isinya menjadi kering, dan
setelah keeing kita telah
boleh pulang ke alam baqa dengan wajah yang penuh senyuman, kita
mati dengan bahagia
sebagaimana hidup telah bahagia. Tiba-tiba dengan tak merasa kasihan,
engkau sepakkan piala itu
dengan kakimu, sehingga terjatuh, isinya tertumpah habis, pialanya
pecah. Lantaran itu, baik
saya atau engkau sendiri, meskipun akan masih tetap hidup, akan
hidup bagai bayang-bayang
layaknya. Dan kalau kita mati, kita akan menutup mata dengan
penuh was-was dan
penyesalan.
Apa sebab engkau begitu
kejam, tak mau memberi maaf kesalahanku? Padahal telah lebih
dahulu bertimpa-timpa
azab sengsara ke atas diriku lantaran mungkirku! Kelihatan oleh matamu
sendiri bagaimana saya
dan suamiku menjadi pengemis di waktu kayamu, menumpang di
rumahmu untuk
memperlihatkan bagaimana sengsaraku lantaran tak jadi bersuami engkau.
Hilang .... hilang
semuanya. Hilang suami yang kusangka dapar memberiku bahagia. Hilang
kesenangan dan mimpi yang
kuharap-harapkan. Setelah semuanya itu kuderita harus kudengar
pula dari mulutmu sendiri
kata penyesalan, membongkar kesalahan yang lama, yang memang
sudah nyata kesalahan,
yang oleh Tuhan sendiri pun kalau kita bertobat kepadaNya, walaupun
bagaimana besar dosa,
akan diampuniNya.
Adakah engkau tahu hai
Zainuddin, siapakah perempuan yang duduk di kamar tulismu kemaren
itu? Yang engkau beri
kata pedih, kata penyesalan yang engkau bongkar kesalahannya dan
kedosaanrtya, yang engkau
remukkan jiwanya dengan tiada peduli?
Perempuan itu tidak lain
dari satu bayang-bayang yang telah hilang segenap semangatnya,
yang telah habis seluruh
kekuatannya, tiada berdaya upaya lagi, habis kekuatan pancaindera
dan perasaannya; matanya
melihat tetapi tak bercahaya, telinganya mendengar, tetapi tiada ia
mafhum lagi apa yang
didengarnya
Yang tinggal hanya
tubuhnya, batinnya sudah tak berkekuatan lagi. Itulah dia perempuan yang
engkau sakiti itu. Itulah
perempuan yang tidak engkau timbang sengsaranya dan ratapnya.
Engkau ulurkan kepadanya
tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris
pembalasan, mengenai
sudut jantungnya, terpancur darah dan akan tetap mengalir sampai
sekering-keringnya,
mengalir bersama dengan jiwanya.
Itulah perempuan yang
engkau sakiti itu!
Tetapi sungguhpun
demikian pembalasan yang engkau timpakan ke atas pundakku,
kesalahanmu itu telah
kuampuni, telah kuhabisi, telah kumaafkan.
Sebabnya ialah lantaran
saya cinta akan engkau. Dan karena saya tahu bahwasanya yang
demikian engkau lakukan
adalah lantaran cinta jua. Cuma satu pengharapan yang penghabisan,
heningkan hatimu kembali,
sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah, ampuni saya,
maafkan saya, letakkan
saya kembali dalam hatimu menurut letak yang bermula, cintai saya
kembali sebagaimana
cintaku kepadamu dan jangan saya dilupakan.
Engkau suruh saya pulang
ke kampungku dan engkau berjanji akan membantuku sekuat
tenagamu sampai saya
bersuami pula.
Zainuddin! Apakah artinya
harta dan perbantuan itu bagiku, kalau bukan dirimu yang ada
dekatku?
Saya turutkan permintaan
itu, saya akan pulang. Tetapi percayalah Zainuddin bahwa saya
pulang ke kampungku,
hanya dua yang kunantikan, pertama kedatanganmu kembali, menurut
janjiku yang bermula,
yaitu akan menunggumu, biar berbilang tahun, hari berganti musim. Dan
yang kedua ialah menunggu
maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya
bergantung di awang-awang
itu.
Selamat tinggal
Zainuddin! Selamat tinggal, wahai orang yang kucintai di dunia ini! Seketika
saya meninggalkan
rumahmu, hanya namamu yang tetap jadi sebutanku. Dan agaknya kelak,
engkaulah yang akan
terpatri dalam doaku, bila saya menghadap Tuhan di akhirat ..........
Mana tahu, umur di dalam
tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau
ziarah ke tanah pusaraku,
bacakan doa di atasnya, tanamkan di sana daun puding panca warna
dari bekas tanganmu
sendiri, untuk jadi tanda bahwa di sanalah terkuburnya seorang
perempuan muda, yang
hidupnya penuh dengan penderitaan dan kedukaan, dan matinya
diremuk rindu dan dendam.
Mengapa suratku ini banyak
membicarakan mati? Entahlah, Zainuddin, saya sendiri pun heran,
seakan-akan kematian itu
telah dekat datangnya. Kalau kumati dahulu dari padamu, jangan kau
berduka hati, melainkan
sempurnakanlah permohonan do'a kepada Tuhan, moga-moga jika
banyak benar halangan
pertemuan kita di dunia, terlapanglah pertemuan kita di akhirat,
pertemuan yang tidak akan
diakhiri lagi oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi
manusia ..........
Selamat tinggal
Zainuddin, dan biarlah penutup surat ini kuambil perkataan yang paling enak
kuucapkan di mulutku dan
agaknya entah dengan itu kututup hayatku di samping menyebut
kalimat syahadat, yaitu:
Aku cinta akan engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di
dalam
mengenangkanengkau"............
Sambutlah salam dari
Hayati.
Setelah selesai surat itu
dibukanya, dilihatnya Muluk kembali, kiranya kelihatan oleh Muluk
pipinya telah penuh
dengan airmata.
"Bang Muluk !"
katanya beberapa saat kemudian, setelah menyapu air matanya. "Saya akan
berangkat ke Jakarta
dengan kereta api malam nanti, pukul 9 besok pagi sampai di Tanjung
Periuk. Biasanya kapal
dari Surabaya merapat di pelabuhan Tanjung Periuk pukul 7 pagi. Hayati
akan saya jemput kembali,
akan saya bawa pulang ke mari.
"Inilah keputusan
yang sebaik-baiknya guru," kata Muluk. Dia berdiri dari tempat duduknya,
di
dekatinya Zainuddin dan
dibarut-barutnya punggung anak muda itu. Lalu dia berkata pula,
"Mudah-mudahan
berhentilah segala kesedihan tuan-tuan keduanya sehingga ini, dan biarlah
rahmat Allah meliputi
tuan-tuan berdua .......
Sabtu, 12 Agustus 2017
TERAS MUSHOLA
15.15
No comments
TERAS MUSHOLA
Episisode: Mintalah, maka dia akan memberimu
Berilah, maka Dia akan mencukupkanmu
Sebagian para jama’ah sholat Shubuh sudah duduk melingkar di
teras mushola mengelilingi kopi dan beberapa piring jagung juga ketela rebus
yang sudah di tata rapi oleh kang Mi’an dan putranya. Memang Ahad Shubuh ini
giliran Kang Mi’an yang menyediakan kopi.
Tampak Kyai Semar sudah menyelesaikan wiridnya dan berjalan
menuju teras mushola.
“Wah, sudah pada ngumpul rupanya ini” kata Kyai Semar begitu
sampai diteras mushola sambil mengambil tempat untuk duduk bersila di samping
Kang Tarjo.
“Monggo Yai” kata Kang Tarjo sambil meletakkan secangkir
kopi di depan Kyai semar dan mendekatkan dua piring ketela dan jangung rebus
yang masih hangat.
“Terma kasih,... Bismillahirrohmanirrohiem” Kyai semar
mengangkat cingkir kopinya dan menyeruput lalu meletakkan kembali di tempat
semula.
“Kok Kang Dasran tidak kelihatan, apa dia baik-baik saja”
Tanya Kyai
“Dia sedang repot Kyai, mengantarkan anak laki-lakinya ke
kota cari kos-kosan, anaknya di terima di Politeknik” kata Kang Mi’an
menjelaskan
“Bukankah istrinya juga sedang sakit?” tanya Kang Jarot
“Benarkah?” tanya Kyai
“Benar Kyai, tapi isterinya menolak di bawa ke rumah sakit”
Kata Kang Makbul
Tampak Kyai semar diam mengangguk-anggukkan kepala. Dan
tidak lama kemudian mengusapkan tangan kanannya ke wajahnya sambil menarik
nafas. Kemudian berkata,
“Begini bapak-bapak sekalian..., itulah contoh perjuangan
dan pengorbanan seorang Ibu, dia tidak mau dibawa ke rumah sakit karena
putranya butuh biaya yang tidak sedikit untuk belajar...., Saudara kita Pak
Dasran sedang kesulitan, maka kita wajib membantunya. Apa kita tidak malu minta
kepada Allah agar kita diberi
kebahagiaan dunia akhirat, padahal kita sendiri tdak mau membantu kesulitan
saudara kita.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ
يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari
berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan
kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang
sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR.
Muslim)
Di teras ini minggu kemarin juga sudah kita pelajari bersama
bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ فِى
حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu
keperluannya. (Muttafaq 'alaih)
Nah, sekarang apa gunanya kalau kita “ngaji kalau tidak
ngiji”, apa gunanya kita membaca Al Qur’an dan hadits kalau tidak kita amalkan,
tidak kita praktekkan,... Pak Mi’an, tolong sampaikan kepada jama’ah, dari rumah
ke rumah untuk membantu Pak Dasran dan keluarganya, dan sebelum pak Mi’an
keliling, tolong ke rumahku terlebih dahulu” Kata Kyai sambil menatap Kang
Mi’an.
“Maaf Kyai, sebelum di dahului panjenengan, ini kebetulan
saya bawa uang. Tadi malam juragan Harto menebas seluruh kebun jagung saya”
Kata Gus Jack sambil menyerahkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah. Kyai
Semar hanya mengangguk dan tersenyum.
RAHASIA KITAB PASHOLATAN 4
15.12
No comments
Episode : Mushola
Tanpa Sang Kyai
Sejak kedatangan Sang Bupati dan ketua
DPRD, kini setiap pengajian shubuh di Mushola Kyai semar selalu saja hadir
tokoh-tokoh penting pejabat terutama dari kalangan parpol. Tetapi Kyai Semar
tetap saja tidak pernah menyambutnya secara khusus. Dan pada jum’at ini, di
akhir bulan April 1982, setelah pengajian Shubuh Kyai semar menyatakan bulan
depan tidak ada pengajian dan baru akan dimulai lagi setelah PEMILU. Meski
demikian para tokoh dan pejabat penting masih banyak yang datang di luar waktu
pengajian agar bisa bertemu dengan Kyai, tetapi Kyai semar tidak pernah ada di
rumahnya setelah pengajian terakhir itu. Bu Nyai mengatakan kepada para tamu
dan jamaah di Musholanya bahwa Kang Jakfar, begitu itu ia memanggil suaminya,
sedang silaturahmi ke Magelang ke pesantren Kyai Blekok.
Meski tidak ada Kyai Semar, Sholat
Jama’ah tetap penuh. Kini yang menjadi Imam adalah Mbah Padlan sebagaimana
biasanya kalau Kyai ada udzur. Begitu pula sholat isya’ malam ini.
“Maaf, Mbah Padlan,... kalau mbah tidak
keburu pulang ada yang ingin kami tanyakan” Kata Kang Birin sambil bangkit
berdiri dari duduknya seraya mendekat kepada Mbah Padlan sambil sedikit
membungkuk mencegat Mbah Padlan yang baru saja menyelesaikan dzikir dan doanya.
Mbah Padlan menghentikan langkangnya
memandang Kang birin sebentar lalu pandangannya dialihkan keseluruh orang-orang
yang sedang duduk bersila bersandar dinding mushola. Mbah Padlan menarik nafas
dalam-dalam. Agaknya ia telah memahami sesuatu.
“Baiklah, silahkan duduk kembali” Kata
Mbah Padlan kepada Kang Birin sambil duduk bersila di depan imaman, Kang Birin
pun kembali ketempat semula dan duduk. Melihat Kang Birin telah duduk kembali
dan memandangnya, Mbah Padlan berkata,
“Apakah yang ingin kalian ketahui adalah
tentang Kyai semar yang sudah tiga hari ini tidak menampakkan diri dan juga
tentang pengajian shubuh yang terhenti?” Ucapan Mbah Padlan meski kelihatanya
pelan tapi kedengaran sangat jelas dan menggetarkan hati. Tampak wibawanya
tidak kalah dengan Kyai semar.
”Benar Mbah” Jawab Kang Birin mewakili
teman-teman dan jamaah lainya.
“Jawabannya adalah, yang tahu secara
pasti cuman Kyai, aku sendiri juga tidak tahu. Tetapi menurutku ini memang ada
hubungannya dengan PEMILU dua minggu lagi, kalau tidak percaya cobalah nanti
kita lihat apakah setelah PEMILU para pejabat dan para tokoh parpol itu masih
mau melangkahkan kakinya kemari untuk
mengikuti pengajian Shubuh, hanya ini yang bisa saya katakan, saya yakin
kalian semua mengerti tindakan Kyai,... dan saya minta tidak ada lagi yang
menanyakan hal ini,... Birin dan Surip meski malam ini kalian tidak piket
ronda, sebaiknya kalian nanti turun menjaga ujung selatan pintu masuk kampung
dekat Hutan Cemoro, mohon maaf saya pulang dulu, Assalaamualikum” kata Mbah Padlan
sambil berdiri bejalan menuju serambi mushola diikuti Kuluk. Semua jamaah menjawab
salam Mbah Padlan tetapi tidak ada seorangpun yang turut keluar. Setelah mbah
padalan dan Kuluk tidak tampak, Kang Warno merangkangkak dari tempat dududknya
mendekati Kang Birin.
“Kang nanti saya ikut ronda ya?” kata Kang
Warno begitu dia sudah duduk di samping Kang Birin.
“Aku juga’
“Aku juga”
“Aku Juga ikut”
Hampir semua orang yang ada di dalam
mushola itu menyatakan ingin ikut.
“Baiklah, tapi tidak semuanya ikut, harus
ada yang disini menemani Rojak menjaga Nyai Semar, lainnya bergabung di pos dan
tempat lain” Jawab Kang Birin. Setelah mereka sepakat membagi tugas kemudian
meninggalkan Mushola menuju rumah masing-masing kecuali Rojak dan Kang Munir.
Mereka akan keluar ke pos masing-masing jam sembilan nanti.
****
Ketika Mbah Padlan telah sampai di
halaman rumahnya tampak Kang Udin pembantunya yang juga pegawainya yang
mengerjakan sawah ladangnya itu tampak sedang duduk di kursi panjang yang
dibuat seperti amben dari bambu wulung. Kang Udin segera bangkit begitu melihat
majikan dan cucunya itu datang dari mushola. Dengan lambaian tangannya Mbah
Padlan mengajak Kang Udin masuk.
Kang Udin segera menutup pintu begitu
Mbah Padlan dan Kuluk menuju kursi di ruang tamu. Ia segera menghampiri mereka
dan duduk di samping Kuluk menghadap Mbah Padlan.
“Udin, apakah sejak tadi kau berada di
luar?”
“Nggih Mbah”
“Apakah kamu tidak merasa ada sesuatu
yang aneh?”
“Nggih Mbah, saya merasa sangat
mengantuk, tidak seperti biasanya, makanya tadi saya membaca beberapa ayat yang
saya hapal agar tidak mengantuk”
“Apa yang kamu baca?”
“Saya mebaca Al Mu’awidzat
berulang-ulang”
Nampak Kuluk tersenyum mendengar jawaban
Kang Udin. Dalam hati berkata, ternyata Kang Udin mempunyai ilmu pengetahuan
agama yang baik pula. Pastilah Kakek yang mengajarinya. Pasti Kakek juga
menurunkan ilmu lainnya kepada Kang Udin.
“Apakah kamu sudah makan?”
“Sudah Mbah”
“Baiklah sekarang kamu boleh pulang dan
pastikan malam ini jagung muda itu jangan sampai terserang hama”
“Baiklah saya permisi, Mas Kuluk saya
pulang dulu, Assalamu’alaikum” Kata Kang Udin kemudian berdiri menuju pintu
diiringi salam dari Mbah Padlan dan Kuluk.
Setelah Kang Udin keluar dan menutup
pintu itu kembali, Mbah Padlan berkata kepada Kuluk,
“Kuluk, sudah berapa lama kamu kenal
dengan Widyawati?”
Kuluk tidak segera menjawab karena kaget
dan kini hatinya berdebar-debar, bagaimana kakek bisa tahu?
“Kuluk”
“Ya kek, anu.... sebulan yang lalu Kek”
Jawabnya masih tampak gugup.
“Kamu tahu bukan siapa orang tuanya?”
“Iya Kek, Ki Lurah”
“Dia memang cantik, berpendidikan, dan
dari keluarga yang berderajat.... apakah kamu pernah ke rumahnya”
“Iya Kek, sekali, waktu bertemu di Toko
Buku di kota kecamatan dan pulang bersama” Jawab Kuluk tanpa berani memandang
Kakeknya.
“Apakah kamu bertemu dengan Ki Lurah?”
“Ya Kek, kami berkenalan”
“Jadi Ki Lurah tahu kamu cucuku”
“Benar Kek”
“Kuluk, sebaiknya engkau tidak mampir ke
rumah Ki Lurah lagi agar tidak jadi perbincangan orang”
“Baik Kek”
“Baiklah sekarang Kakek akan istirahat”
“Kek, saya akan ke rumah Bu Nyai menemui
Rojak, kunci pintu depan saya bawa”
“ Ya, tapi ingat nanti ikut Kang Birin
Ronda” kata kakeknya sambil berjalan menuju kamar.
“Baik Kek “ Jawab Kuluk sambil berdiri
dan menuju ke kamarnya pula untuk berganti baju. Tidak lama kemudian Kuluk
telah keluar dari kamarnya memakai jaket dan dan celana longgar seperti yang di
pakai pak tani juga sarung yang dililitkan di lehernya.
Kuluk keluar dan menguci pintu. Angin
malam yang menyambutnya terasa dingin. Sebelum melangkangkan kakinya di depan
pintu, Kuluk menoleh ke kanan memandang pagar halamannya yang rimbun di bawah
pohon nangka yang cukup besar itu lalu tersenyum. Ia melangkan kakinya dengan
ringan menuju mushola Kyai semar untukmenemui Rojak. Begitu Kuluk telah jauh
meninggalkan halaman rumah nampak berkelebat seseorang dari balik pohon nangka mengikutinya.
Tiba-tiba Kuluk membalikkan badan
berjalan menuju ke arah rumahmya kembali sambil merogoh-rogoh seluruh saku
jaketnya seperti mencari sesuatu, seolah-olah ada yang tertinggal dan ingin
kembali ke rumahnya. Tetapi setelah sampai di depan rumahnya Kuluk bukannya
belok ke halaman rumahnya tapi berjalan terus kemudian masuk jalan setapak diantara
kebun singkong kakeknya. Jalan setepak ini setelah melewati lima kebun akan
tembus ke jalan Cemoro II tempat ke Pos Ronda.
Ketika
ditengah kebun persis di samping pohon yang rimbun dan banyak cabangnya
Kuluk melompat dan ke salah satu cabang yang agak rendah lalu melopat lagi ke
cabang yang lebih tinggi dan dia mengawasi sekelilingnya. Ia merasa sejak
keluar dari rumah tadi ada yang menguntitnya. Kuluk ingin menjebak di tengah
kebun ini.
Dan benar tidak lama kemudian seseorang
keluar dari kebun singkong tidak jauh dari pohon tempat kuluk bersembunyi. Orang
itu tidak dapat dikenali karena seluruh kepala dan mukanya tertutup dan hanya
kedua matanya yang tampak sedang mencari-cari jejak buruanya. Orang itu
berjalan mendekati pohon. Tiba-tiba ia melihat ke atas pohon tepat ketika Kuluk
meluncur dengan cepat ke arah tubuhnya. Agaknya orang ini sangat waspada dan
langsung melompat ke belakang menghindari terjangan Kuluk lalu sudah siap
dengan Kuda-Kuda menanti serangan Kuluk.
“Apa maumu menguntit aku” tanya Kuluk.
Tidak ada jawaban, orang itu malah bergeser ke tenpat yang agak luas. Kuluk
maju sambil meraih kepalanya untuk menarik penutup kepalanya. Seperti dugannya
orang itu akan melindungi kepalanya, dan ini memang diseangaja Kuluk untuk
menyerang dengan tendanganya. Diluar dugaan Kuluk ternyata dengan gerakan yang
cepat orang ini dapat mengelak tendangan Kuluk sekaligus menangkis serangan
Kuluk dikepalanya.
“Plakk..!” terdengar benturan kedua
lengan masing-masing. Kuluk merasa tanganya kesemutan dan orang itu terdorong
satu langkah. Kuluk merasa orang ini lebih tangguh dari lawannya di lapangan
sepak bola beberapa bulan lalu. Kuluk menyerang lagi langsung dengan jurus
andalan, tetapi lawanya dapat menghindari dan sekali-kali menangkis serangan.
Kuluk merasa heran setelah beberapa jurus berlalu lawannya tidak pernah satu
kalipun menyerang.
Dalam hati Kuluk merasa kesal seperti
dipermainkan, maka Kuluk menyerang dengan jurusnya yang lebih dahsyat
sebagaimana yang di ajarkan Kyai Alas Roban. Kini dengan jurus barunya hanya
dalam beberapa gebrakan saja lawan harus jungkir balik repot menghindar dan
akhirnya pundak lawan terkena pukulan tangan terbuka sehingga ia mencelat
kebelakang dan jatuh. Lalu dengan cepat lawanya bangkit dan melarikan diri ke
tengah kebun singkong dengan cepat.
Meski masih penasaran Kuluk merasa
percuma kalau mengejarnya karena larinya sangat cepat. Ia berjalan keluar dari
kebun singkong menuju jalan desa dan kembali ke arah mushola Kyai Semar dengan
pikiran masih penuh tanda tanya siapa penguntitnya tadi. Kalau dia bermaksud
jahat kenapa ia tidak menyerang sedikitpun padahal jelas ilmu silatnya sangat
tangguh. Bahkan dapat menahan pukulanya. Jika orang biasa setidaknya tulang di
pundaknya akan patah atau setidaknya memar terkena pukulannya. Tidak terasa
langkahnya sudah sampai di halaman mushola Kyai Semar.
Tampak Kang Munir dan dan Rojak sedang
duduk bersila di atas tikar di teras Mushola ditemani dua cangkir kopi dan
sepiring telo rebus di samping teko dari
keramik yang berisi kopi yang masih panas.
“Nah, itu dia si Kuluk datang” Kata Rojak
sambil meletakkan cangkir kopinya. Kang
Munir yang sedang menikmati telo hangat menoleh ke arah Kuluk yang berjalan
santai ke mereka.
“Kebetulan ini telonya masih hangat dan
kopinya juga masih panas, sebentar ya saya ambilkan cangkir” kata Rojak hendak berdiri begitu Kuluk sudah duduk
di sampingnya.
“ Gak usah, kita joinan saja, satu
cangkir berdua” kata Kuluk sambil menekan pundak Rojak yang akan berdiri.
Rojakpun duduk kembali. Kuluk mengambil cangkir Rojak dan menyeruput kopinya
kemudian meletakkan kembali di tempat semula.
“Jak, kamu ngomong apa sama kakek tentang
Widya?”
“Hah, jangan sembarang nuduh Luk” Jawab
Rojak. Rojak kini memanggil Kuluk tanpa sebutan mas lagi karena Kuluk tidak
mau. Karena Kuluk ingin lebih akrab dan juga umur mereka sepantaran.
“Kan cuman kamu yang yang tahu ditambah
Kang Munir sekarang” Kata Kuluk sambil meilhat Kang Munir yang hanya tersenyum
sambil menghabiskan telonya. Kang Munir mengeluarkan rokok kreteknya dan korek
api dari saku jaketnya dan mengambilnya sebatang lalu menawarkannya pada Kuluk.
Kuluk menolak dengan mengangkat telapak tangan menghadapkan ke Kang Munir.
Kuluk menolak karena tidak biasa merokok. Tetapi Rojak segera menyambar bungkis
rokok itu dari tangan Kang Munir dan mengambilnya sebatang dan meletakkan bungkus
rokok itu di samping cangkir kopi Kang Munir karena Kang Munir sedang menyulut
rokok yang telah menempel di bibirnya. Sambil mengepulkan asap dari celah
bibirnya Kang Munir melempar korek api
ke arah Rojak yang segera menangkapnya. Rojak menoleh ke arah Kuluk.
“Sungguh aku bukan tipe lambe bocor, aku
teman yang bisa dipercaya” Kata Rojak lalu menyulut rokoknya dan meletakkan
korek api itu di tas bungkus rokok.
“Lalu dari siapa Kakek tahu tentang
Widya”
“Mas Kuluk, memangnya waktu Mas Kuluk
sama Widya tidak ada orang yang lihat?” Tanya Kang Munir
“ Ya banyak Mas, wong dari kecamatan
sampai rumah Ki Lurah” Rojak yang menjawab
“Kalau orang tua sudah tahu dan bertanya
itu tandanya baik, siapa tahu Mas Kuluk segera dilamarkan” Kata Kang Munir
sambil tersenyum.
“Baik apa, wong sepertinya Kakek
melarang...”
“Melarang...?” Suaran Kang Munir dan
Rojak serentak kaget. Keduanya memandang Kuluk.
“Assalamu’alaikum...” Suara salam
mengagetkan mereka bertiga. Serentak mereka memandang ke arah datangnya suara
di pintu masuk halaman mushola, mereka serempak menjawab salam. Tampak Kang
Birin melenggang masuk sambil menenteng senter yang cukup panjang dari logam
yang dilapisi nekel. Kuluk mengangkat jari telunjuknya di depan mulut. Dua
temannya mengangguk.
“Mari silahkan Kang Birin, saya ambilkan
cangkir” kata Rojak sambil berdiri begitu Kang Birin sudah duduk di samping
Kang Munir.
“Terima kasih Jak, saya barusan minum
kopi di Gardu Ronda, duduklah ada yang ingin saya sampaikan”
“Kabar apa Kang?” Tanya Rojak
“Dari Nasehat Mbah Padlan tadi,
sepertinya kita harus lebih waspada. Apalagi mereka tentu tahu pula bahwa Kyai
tidak ada sehingga mereka akan lebih berani”
“Benar Kang. Tadi saya juga memergoki
orang yang menguntit saya tetapi ia melarikan diri setelah saya jebak di kebun
singkong kakek”
“Barusan? ... sesore ini? Nekat dan
berani benar mereka”
“Sik sik sik... maaf Kang Birin,
maksudnya mereka itu siapa?... Pencuri?... Perampok? Terus apa hubungannya
menguntit Kuluk?.. Jangan-jangan mereka itu ada hubungannya dengan Wid...”
“Hus...” potong Kuluk sambil membekap
mulut Rojak
“Mereka itu orang yang akan mengacau desa
kita, tapi kita belum tahu siapa mereka” kata Kang Birin. Rojak
mengangguk-angguk.
“Pantas Kyai pesan kepada saya untuk
selalu menjaga Mushola dan waspada, jadi segawat itu to keadaan desa kita” Kata
Rojak
“Cukup kita saja yang tahu keadaan ini,
jangan sampai masyarakat luas tahu” Kata Kang Birin sambil menatap Rojak. Rojak
mengangguk-angguk sambil mengangkat tangan kanan di samping kepalanya dan
menekuk semua jarinya kecuali tengah dan telunjuk.
“Begini rencananya, tadi juga sudah saya
sampaikan di pos ronda, kalau mereka muncul lagi kita tangkap dan interogasi
siapa yang menyuruh mereka dan apa maksudnya lalu lepaskan dan aku akan kuntit
mereka sehingga kita tahu sarang dan induk semangnya, baiklah nanti jam sebelas
Mas Kuluk kami tunggu di Pos Ronda kita akan menuju perbatasan di hutan cemara,
Kang Munir dan Rojak tetap di sini nanti akan di temani sebagian dari pos
Ronda, sekarang saya permisi mau kembali ke Pos Ronda” Kata Kang Birin.
Malam itu semua rencana Kang Birin
dilaksanakan dengan baik sampai menjelang subuh. Tetapi tidak ada satupun hal
yang terjadi. Aman.
*****











